Volver; Ketika Maut Tak Pernah Mati

Oleh Nuruddin Asyhadie


VolverInilah film yang berbicara tentang nekrokultura di La Mancha, rumah Don Quixote. Sebuah film tentang kematian yang terus hadir dalam kehidupan, dalam sebuah spirit kesintingan, petualangan, dan ambiguitas dunia.

Volver, film karya Pedro Almodovar yang memenangkan Best Foreign Film National Board of Review, Best Screenplay & Best Actresses Cannes Film Festival dan Best Picture Audience Award, Best Director, Best Actress, Best Composer & Best Cinematographer European Film Awards ini bercerita tentang tiga generasi perempuan yang hidup di tengah terpaan angin timur, api, kegilaan, tahayul, dan kematian dengan kebaikan hati, kebohongan, dan daya hidup tiada terkira.

Mereka adalah Raimunda (Pénelope Cruz), yang telah menikah dengan seorang buruh yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan memiliki seorang anak gadis belasan tahun bernama Paula (Yohana Cobo), hasil hubungan Raimunda dengan ayah kandungnya sendiri; Sole (Lola Dueñas), kakak Raimunda, yang bekerja sebagai pengering rambut; dan Irene, ibu mereka (Carmen Maura), yang selama ini diketahui meninggal bersama suaminya dalam sebuah kebakaran, namun ternyata masih hidup. Tokoh ini muncul pertama kali di hadapan kakaknya sendiri (Chus Lampreave), lalu ke Sole, meskipun persoalan-persoalannya yang belum terselesaikan adalah dengan Raimunda dan tetangganya di desa Agustina (Blanca Portillo), anak dari perempuan kekasih gelap suaminya. Ibu Agustinalah yang sesungguhnya tewas terbakar bersama suami Irene, namun selama ini ia diberitakan pergi meninggalkan desa mengikuti naluri hippiesnya.
Ada banyak sekuen lucu dan dramatik dalam film ini, dan semua itu disajikan oleh Almodovar dalam ketuk kehidupan nyata yang dikocok dengan semacam surealisme. Gagasan tentang hantu Irene, usaha Sole menyembunyikan sang hantu dari adiknya, atau bagaimana ia memperkenalkan hantu itu pada kliennya, serta bagaimana Raimunda menyembunyikan mayat Paco, suaminya–ayah tiri Paula–yang dibunuh oleh gadis itu karena berusaha memperkosanya, dan akhirnya menguburnya di tepi sungai tempat Raimunda dan Paco bermain semasa kecil, sangat komikal.

Demikianlah penduduk La Mancha membicarakan kematian, memelihara ingatan mereka. “Volver adalah sebuah penghormatan pada ritus-ritus sosial penduduk La Mancha mentakzimi maut. Maut yang tak pernah mati,” kata Almodovar dalam Pengakuan-nya. Orang-orang La Mancha telah memiliki kubur mereka sendiri, sebelum mereka meninggal, sebagaimana yang ditunjukan oleh karakter Agustina di awal film ini, yang datang ke pemakaman untuk membersihkan kuburnya sendiri dan bertemu dengan Raimunda, Sole, dan Paula yang menggosok nisan orang tua mereka.

Kembalinya Irene pun adalah sesuatu yang khas La Mancha. Penduduk La Mancha percaya bahwa orang yang telah mati akan kembali ke rumah, dan kadangkala menemui orang-orang tertentu untuk menyampaikan pesan atau menyelesaikan ‘hutang-hutang yang belum terselesaikan’ semasa ia hidup. Hanya saja Almodovar tak benar-benar menjadikan Irene sebagai hantu, memperumitnya dengan skandal atau rahasia-rahasia di balik kematian suami Irene dan ibu Agustina. Artinya, Almodovar membalik imajinasi “kehidupan dalam kematian” La Mancha ke “kematian dalam kehidupan”, membicarakan terma-terma “hantu” dan atau “kehantuan”, kehadiran sekaligus absensi, dalam ante mortem, bukan post mortem.

Dengan film ini, Almodovar seakan mengatakan pada dunia, bahwa warisan-warisan Cervantes belumlah terlupakan dan tak selayaknya terlupakan.

###

Advertisements

About this entry