Chiklit Buatan Indonesia Asli

Oleh Nuruddin Asyhadie

cintapuccinoBermula dari sebuah kolom nyeleneh yang berbicara mengenai celana dalam dan berat badan di The Independent, koran sayap kiri Inggris yang identik dengan tulisan-tulisan politik, Bridget Jones’s Diary menjadi fenomena baru dalam dunia sastra. Novel kedua Helen Fielding yang terbit tahun 1999 dan mencapai sukses internasional itu menelurkan genre baru yang dikenal sebagai chicklit.

Chicklit adalah sebentuk fiksi postfeminis yang mengangkat pengalaman-pengalaman perempuan umur 20-30 tahun menghadapi tema-tema cinta romantik, percumbuan, dan gender secara tak biasa (dalam pengertian seperti novel-novel romantik Abad 19), melalui pembahasan vulgar persoalan seksual serta gaya bahasa yang sinis dan urakan.

Istilah chicklit merupakan penggabungan kata chick, bahasa slang Amerika untuk perempuan muda, dan lit, kependekan dari literature. Secara konotatif chicklit dikaitkan dengan merek permen karet Chiclets, mengindikasikan para pembaca genre ini adalah perempuan tak terdidik dan klise yang suka mengunyah permen karet dan menjauhi sastra “serius”.

Genre ini mulai dikenal di Indonesia tahun 2003. Agen utamanya jelas Gramedia Pustaka Utama, penerbit terbesar dan terkaya negeri ini, yang menerbitkan novel-novel chicklit terjemahan dengan tag line “Being single and Happy“, identifikasi yang sesungguhnya melenceng, sebab ia merupakan sebuah pernyataan feminis, bukan postfeminis. Postfeminisme tak pernah mengejawantah sebagai pernyataan, namun pertanyaan, gugatan, terhadap posisi perempuan pasca kesetaraan gender.

Kemunculan novel-novel chicklit terjemahan memberikan inspirasi pada seorang Icha Rahmanti, arsitek freelance, penyiar dan produser radio OZ FM Bandung untuk menulis apa yang disebutnya sebagai “chicklit buatan Indonesia asli”, sebab di pelupuknya persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan Indonesia jauh lebih kompleks, tuntutan usia menikah yang lebih muda dari Barat, perbedaan-perbedaan adat istiada dan budaya, belum lagi jika terjadi asimilasi. Sebuah usaha untuk memberi warna lokal.

Lahirlah Cintapuccino (2004) dari tangan Icha, yang kemudian diklaim sebagai novel chicklit Indonesia pertama. Novel ini pun, mengikuti semangnya, meraup sukses pemasaran. Dalam waktu tiga minggu, cetakan pertamanya sebanyak sebelas ribu eksemplar ludes. Kurang dari setahun, Cintapuccino telah tiga belas kali cetak ulang. Setelah itu terbitlah “chicklit lokal” lainnya, baik.di bawah label “chicklit buatan Indonesia asli” maupun tidak.

Seperti subgenre-subgenre chicklit lainnya, “chicklit Indonesia” memunculkan pertanyaan-pertanyaan genealogis. Sejauh manakah ia bisa disebut sebagai “chicklit” dan selanjutnya “chicklit Indonesia”? Seberapa jauh pergeseran-pergeseran yang terjadi? Mampukah ia memenuhi agendanya menyajikan problem-problem perempuan lokal?

Pencarian ciri nasaban memang terasa tidak adil dan totaliter, namun pertalian darah yang ditarik oleh Icha Rahmanti, serta fakta bahwa dewasa ini hampir semua novel yang bertokoh utama perempuan dan berbicara tentang perempuan, dengan berbagai motif, sengaja maupun tidak, telah dicap sebagai “chicklit“, membuat pertanyaan-pertanyaan itu penting untuk diajukan. Jauh lebih penting dari menilai kualitas novel-novel tersebut, dalam pengertian baik atau buruk, sastra atau bukan.

Dalam kesempatan ini, tak mungkin membicarakan seluruh novel “chicklit Indonesia” yang telah terbit, sehingga dibatasi hanya pada Cintapuccino, yang bisa dianggap sebagai prototipe dari varietas ini. Sepanjang pengamatan penulis, karya-karya yang terbit kemudian dan diklaim sebagai “chicklit lokal” tak memiliki perbedaan signifikan dengan novel pertama Icha tersebut. Untuk tujuan-tujuan yang telah disampaikan di atas maka akan ditelusuri sistem tanda, ideologi, gender, institusi artistik, serta posisi subjek dan liyan dalam Cintapuccino, yang dalam pembahasannya akan dibandingkan dengan Bridget Jones’s Diary.

Mengapa Bridget Jones’s Diary dan tidak lainnya? Pertama, Bridget Jones’s Diary adalah matriks dari genre chicklit. Kedua, kelatahan atau pemanfaatan semena-mena merek “chicklit“, telah menyebabkan kerancuan mengenai genre ini, seperti tampak dalam reduksinya menjadi sekedar “bacaan perempuan”, atau sedikit lebih canggih “bacaan perempuan kosmopolitan” (penerjemahan keliru dari perempuan Cosmo-pembaca majalah Cosmopolitan, mengacu pada Bridget), “teman berbagi”, dan sebagainya.

Penarikan kembali pada Bridget Jones’s Diary, bukanlah sebuah usaha untuk mendapatkan referensi absolut atau definisi esensial, tetapi lebih kepada what counts as truth, stabilisasi makna temporer.

*

Cintapuccino berkisah tentang ketakutan Apraditha Arrahmi ketika obsesinya terhadap Dimas Geronimo, kakak kelasnya di SMU, mulai menjadi kenyataan dan merusak seluruh rencana sempurna yang telah ia susun bersama Danang Raka Soediro, kekasih yang akan segera menikahinya.

Dalam banyak hal Cintapuccino mengikuti Bridget Jones’s Diary: model narasi orang pertama tunggal, via penyingkapan buku harian; tokoh utama perempuan lajang yang terbelit di antara dua pria, yang dalam perkembangan kisah bertukar peran dari hero ke bitch dan sebaliknya; tokoh utama yang beralih profesi; pembukaan yang berlatar waktu hari raya; penyelesaian yang diakhiri dengan sebuah kesimpulan; hingga keberadaan mélange (bauran), neologisme-neologisme yang dihasilkan dari rancuan dua kata atau lebih.

Sayangnya nasaban kopulatif itu hanya permukaan belaka. Terdapat perbedaan mendasar antara Bridget Jones’s Diary dan Cintapuccino. Bridget Jones’s Diary dibangun dalam semangat satirikal dan penghancuran diri. Tak hanya disampaikan secara verbal, tetapi juga melalui permainan (struktur) bahasa yang suka menghilangkan subjek kalimat. Cintapuccino justru dalam sebuah hasrat narsisistik.

Selain itu, relasi antar tokoh dalam Cintapuccino berhenti sebatas interpersonalitas, tanpa pernah berkembang sebagai sesuatu di luar dirinya, yang lebih luas, lebih besar. Dalam Bridget Jones’s Diary, persentuhan para tokoh merepresentasikan pertarungan-pertarungan kapital, sosial maupun kultural. Interaksi Ibu-Bridget menjadi gugatan terhadap dikotomi ibu/pelacur. Bridget-Bridget merupakan kritik, atau sarkasme terhadap trend-trend sosial keperempuanan (kecantikan, kelangsingan, kesehatan, dan sebagainya). Darcy-Bridget-Daniel, juga Bridget-teman-teman selajang-sepenangungannya, menggambarkan sebuah pencarian posisi subjek yang baru bagi perempuan, merujuk pada kaburnya batasan-batasan antara feminis/nonfeminis atau lebih ekstrim feminis/misoginis.

Semangat satirikal, penghancuran diri, dan kritisisme terhadap nilai-nilai yang mengurat akar, episteme-episteme, terutama mengenai keperempuanan sebagai pokok perhatian arus utama kebudayaan adalah kualitas-kualitas yang menjadikan Bridget Jones’s Diary sebagai bentuk artistika bakdamodern. Kualitas-kualitas ini pula yang membuatnya pantas disebut “artefak budaya yang kebesarannya melangkaui dirinya sendiri”, bukan novel Harlequin.

Keterkungkungan relasi tokoh-tokoh Cintapuccino dalam interpersonalitas berimplikasi langsung pada agendanya berbicara mengenai keperempuanan dalam local insight.

Agenda itu tercecer tak berimba. Penggambaran-penggambaran mengenai ciri khas keluarga besar Sunda yang gemar ngariung (kumpul-kumpul), yang diisi oleh keluarga Rahmi dengan bermain Kartu Monyet, permainan yang pada saat-saat tertentu berfungsi sebagai batu ujian bagi orang luar yang ingin menjadi bagian keluarga besar, pranata sosial yang menabukan perempuan merokok, bangun kesiangan, dan desakan untuk segera menikah di bawah umur 30-an, sampai penamaan Barbietch pada distro yang didirikan Rahmi bersama Alin, acara Single Sexy and Faboulus Nite yang memberikan penghargaan kepada Rahmi sebagai Single With The Most Will -You Marry-Me Question, tersemat sebagai aksesoris belaka, bukan bagian solid kisahan, yang berkanjang menjadi sel-sel penyusun tubuh novel.

Cintapuccino memang bercerita tentang seorang perempuan, tetapi bukan keperempuanan. Tak ada sesuatu yang dilawan atau diperjuangkan di sana kecuali obsesi dan ketakutan Rahmi. Ia bukan “The edge of reason“, hanya “Love & laughter.”

Jika mau sedikit memaksa, satu-satunya keberhasilan Cintapuccino sebagai “chicklit buatan Indonesia asli” adalah pengajuan dirinya sendiri sebagai buaya putih, tiruan kelas teri. Benar-benar asli Indonesia.

###

Advertisements

About this entry