Film & Televisi: Cain+Abel=Cable?

Oleh Nuruddin Asyhadie


tvcable Ketika pada tahun 1990-an, bermunculan televisi swasta seperti RCTI, SCTV, TPI, ANTV, INDOSIAR, diikuti METRO TV, TRANS TV, TV7, dan LATIVI pada tahun 2000-an, mereka pernah dituding sebagai penyebab terpuruknya bioskop dan film Indonesia. Bertekuknya film di kaki televisi, sesungguhnya bukan isu baru. Di Barat, semenjak tahun 1960-an, bersamaan dengan lahirnya film televisi, telesinema, atau sinetron, film telah dinyatakan mati. “Televisi tak ubahnya Cain (Kain) yang membunuh saudara kandungnya sendiri, Abel (Habil),” kata Jean-Luc Godard, sutradara ‘la nouvelle vague’ Perancis kenamaan.

Cain+Abel=Cable

Sistem elektronik temuan Philo Taylor Farnsworth, dan Vladimir Zworykin, berdasarkan teknologi yang dikembangkan Charles Francis Jenkins dan John Logie Baird sebelum Perang Dunia II ini telah memindahkan kebiasaan menonton dari pergi ke gedung bioskop dengan hanya duduk nyaman di rumah dan mendapat tontonan yang sepadan. Hal itu bukan persoalan pilihan. Televisi, layaknya jaelangkung, datang tak dijemput pulang tak di antar. Mereka adalah penduduk istimewa yang dapat memasuki ruang-ruang domestik mana pun, bukan hanya ruang tamu, tetapi juga kamar tidur, bahkan toilet (jika terpasang di sana), tanpa harus menunjukan kartu identitas mereka agar tak ditangkap hansip.

Para sineas, pengusaha gedung bioskop, dan pecinta film, tentu saja tak tinggal diam. Mereka selalu berupaya memberi nafas buatan untuk menghidupkan kembali film, tanpa pernah mengingat dosa mereka menendang seni panggung. Mereka mengatakan bahwa pengalaman menonton di bioskop dan televisi, baik melalui tayangan stasiun televisi atau VCD dan DVD, sungguh berbeda. Ada impresi-impresi dalam menonton film di bioskop yang tak tergantikan atau disamai saat menonton film televisi, atau pemutaran ulang film bioskop di televisi. Bahkan pada Academy Award 2006 lalu, Jon Steward, sang pembawa acara, terus-menerus mengkoarkan perbedaan ini.

“Dapatkah film dan televisi (serta digital media) dapat hidup bersama?” tanya Thomas Elsaesser dalam pengantar buku Cinema Futures: Cain, Abel or Cable? The Screen Arts in the Digital Age (1998) yang dieditorinya bersama Kay Hoffmann.

Dengan kumpulan itu, Elsaesser ingin menunjukan bahwa drama hubungan film dan televisi, tak musti berakhir dengan pembunuhan, sebagai Kain dan Habil yang dipahami oleh Godard. Setiap media baru, pasti menggeser kedudukan media lama di masyarakat, sesuai dengan fungsinya, namun hal itu bukan berarti televisi akan merejek film, toh ia juga tak benar-benar menelan radio. Garis nasaban (kekerabatan) utama televisi dan film adalah basis sosial mereka, yaitu pasar masal yang menjadi target pengembangan industri jasa, maka konvergensi dan sinergi antara film dan televisi pasti akan terjadi sebagai efek dari kapitalisme. Garis itulah yang Elsaesser maksudkan sebagai Cable, kawat atau penghubung, yang juga merupakan penggabungan nama Cain-Abel.

Jika memperhatikan benar dialektika antara film dan televisi, kita akan mendapati apa yang telah dikatakan Elsaesser, bahkan semenjak dekade pertama lahirnya film televisi. Sebut saja, Duel (1971) karya Steven Spielberg dan dibintangi oleh Dennis Weaver, yang karena popularitasnya ditayangkan di bioskop-bioskop Eropa, baru kemudian Amerika-fenomena ini mungkin dapat dipandang sebagai cikal bakal versi bioskop (the movie) dari sebuah film televisi.

Kabel-Kabel yang Terentang (Kasus di Indonesia)

Televisi Republik Indonesia (TVRI) adalah stasiun televisi pertama di Indonesia, yang mengudara sejak tahun 1962 di Jakarta. Siaran perdananya menayangkan Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-17 dari Istana Negara Jakarta. Siarannya ini masih berupa hitam putih. TVRI kemudian meliput Asian Games yang diselenggarakan di Jakarta.

TVRI mulai memproduksi film televisi mulai sekitar tahun 80-an. Kisah-kisahnya banyak meniru atau mengadopsi cerita film laga, pembunuhan-berbeda dengan film televisi di Amerika yang cenderung melodrama, dengan gaya plot opera sabun. Adopsi itu, menurut Asrul Sani dalam sebuah wawancara dengan Kompas (9/6/1985), berdasarkan pada asumsi bahwa penonton televisi hanya sanggup menangkap kisah-kisah semacam itu.
Bagi Asrul hal itu sangat aneh. TVRI, sebagai satu-satunya stasiun waktu itu dan dibiayai negara, seharusnya menjadi sector of excellence, penjaga seni tinggi dan menekankan kualitas karya. Mengapa harus berpikir bisnis seperti para cukong?

Pada masa-masa ini pula terdapat film Si Unyil dan Losmen yang sukses luar biasa, hingga dibuat versi layar lebarnya, bahkan versi panggung.

Saat stasiun-stasiun televisi swasta bermunculan dan film Indonesia bangkrut, hubungan antara film dan televisi memasuki babak baru. Film-film Indonesia lama mulai diputar lagi di televisi. Meski dapat dipandang sebagai sebuah usaha membangun kembali apresiasi terhadap film-film nasional, tetapi sangat jelas jika motif utama tetaplah bisnis. Film-film yang diputar adalah film-film komedi Warkop DKI, Benjamin, dan film-film silat atau seronok. Terkadang memang diputar film-film Teguh Karya, Arifin C. Noer, Asrul Sani, namun jumlah dan frekuensinya dapat dihitung dengan jari. Pemutaran film-film layar lebar lokal itu masih berlanjut hingga kini.

Tahun 2000-an adalah tahun reproduksi film-film layar lebar yang sukses di pasaran menjadi film televisi. Beberapa diambil dari film mistik dan horor layar lebar era 90-an yang sukses menangguk penonton, seperti Saur Sepuh, Misteri Gunung Berapi, yang kemudian memunculkan film-film laga dan mistik baru atau variannya di televisi: Dendam Nyi Pelet, Misteri Nini Pelet, Anggling Darma, Prahara Prabu Siliwangi, dan sebagainya. Lainnya diambil dari film-film komedi, roman, atau drama yang telah terbukti sukses di pasaran seperti Inem Pelayan Sexy dan Inem Sang Pelayan, Ada Apa Dengan Cinta, Me Vs. Higheels, Virgin, dan yang paling gress Arisan.

Kabel yang Rapuh

Fakta-fakta itu menunjukan bahwa konvergensi dan sinergi film-televisi di atas rel kapitalisme memang sesuatu yang niscaya, meski masih menyisahkan pertanyaan.

Elsaesser telah menyatakan bahwa setiap media baru, pasti menggeser kedudukan media lama di masyarakat, sesuai dengan fungsinya, walaupun tak berarti merejek media lama tersebut.

Dalam hubungan antara televisi dengan radio, tesis ini mungkin berlaku, namun dalam hubungan televisi dengan film, persoalan menjadi lebih rumit. Kabel basis sosial, yaitu pasar masal yang menjadi target pengembangan industri film dan televisi (juga radio), adalah sebuah proposisi yang tipis, rapuh.

Hal yang dilupakan oleh Elsaesser adalah film dan televisi sama-sama bernafas dalam dunia visual atau figural.

Berbicara mengenai dunia visual atau figural yang menjadi core kebudayaan postmodern, kita harus mencamkan perkataan intelektual subversif asal Perancis, Jean Baudrillard, bahwa televisi merupakan jantung dari kebudayaan ini.

Televisi menerjangkan gelombang simulasi dan faksimili, dunia tiruan dan jiplakan, baik secara literal, metaforik, maupun superfisial, tanpa hirarki makna, yang menganulir batas-batas modern akan kenyataan dan khayalan, publik dan privat, seni dan realitas.

“Televisi adalah dunia!” ujar Baudrillard. Bukan sebuah klaim yang berlebihan, sebab televisi merupakan sumber virtual pengetahuan mengenai dunia dan pembentuk pandangan hidup, melebihi tanah kelahiran atau ruang nyata kehidupan.

Dalam perseteruan film dan televisi kita tak dapat berbicara tentang distingsi, dengan demikian bersih dan rigid, seperti pada televisi dan radio.

Baru-baru ini diadakan Temu Bicara Media dan Film, sebagai bagian dari Festival Sinema Perancis 2006 di Jakarta, Jumat (12/5/2006). Eros Djarot yang bertindak sebagai pembicara mensinyalir bahwa ada interaksi dalam hal estetik dan format antara televisi dengan film. Bila dilihat dari simbol-silmbol atau secara semiotik, pengaruh televisi terhadap film hari ini begitu terasa. Film layar lebar Indonesia dewasa ini, menurut Eross, sangat kental dengan gaya drama televisi dan kehilangan kedalamannya.lebih lanjut Eross mengatakan hal itu bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara yang industri filmnya telah melembaga.

Pierre Devoluy, Atase Kerjasama Audio Visual Kedutaan Prancis, juga mengakui hal sama. Ia membeberkan bahwa televisi dan para sineas Prancis tidak akur. Hal itu terjadi setelah Pemerintah mengeluarkan peraturan agar stasiun televisi menjadi produser film. Televisi Prancis yang membiayai produksi film kemudian memaksa agar film itu dapat masuk dalam program televisi, padahal formatnya tidak sesuai. Sebuah kompromi pun diambil, beberapa stasiun televisi di Perancis membuat saluran khusus untuk film dan tidak lagi mendikte para sineas.

Tetapi seberapa jauhkah resistensi film terhadap pengaruh televisi, baik kapital, estetika, ideologi dapat bertahan?

Apalagi berhadapan dengan gerakan-gerakan puritanisme film, semacam Neo Realisme Italia, ‘la nouvelle vague’ (Gelombang Baru) Perancis yang mengadopsi manifesto ‘Naissance d’une nouvelle avant-garde: La caméra-Stylo’ (Lahirnya sebuah Avant-Garde baru: Kamera sebagai Pena) Alexandre Astrucs, atau Dogme 95 Denmark yang berusaha kembali ke kesederhanaan dan wajah bayi Lumières. Gerakan ini memiliki hubungan yang akrab dengan stasiun televisi, dan banyak mempengaruhi para sineas muda, yang mencari alternatif lain untuk ‘mengencingi’ tradisi Hollywood yang glamour, mahal, dan penuh kosmetik.

Bersama dengan puritanisme, dan hubungannya yang akrab dengan televisi, tentu kita juga harus bertanya, siapa si pembid’ah sesungguhnya? Film atau televisi? Sungguh kita musti memikirkannya.

###

Advertisements

About this entry