Bola Lampu 200 Lilin

Oleh Nuruddin Asyhadie


AsrulPernah ia menulis sebuah karangan berkepala “Bola Lampu”, dan dipublikasikan pertama kali dalam majalah Siasat, Th. II No. 55, 21 Maret 1948. Karangan itu pendek belaka, barang 762 kata tanpa spasi, berkisah tentang sahabatnya yang mencintai bola lampu, yang pada akhirnya menyesal karena kecintaan itu membuatnya kehilangan “bola lampu” lain, yang paling tidak 200 lilin nyalanya, yang mampu memberikan kekuatan untuk mengarang sebuah cerita 300 halaman tebalnya, yaitu gadis yang dicintainya.

Entah siapa yang disebutnya sahabat di sana. Mungkin Chairil, mungkin Rivai Apin, yang dua tahun kemudian bersama dengannya menerbitkan kompilasi Tiga Menguak Takdir (1950). Mungkin juga karibnya yang lain, sebuah nama yang tak beruntung tercatat sejarah. Atau dirinya sendiri, yang saat itu sebagai remaja 21 tahun tentu disibukan dengan masalah percintaan, di samping gelora menciptanya.

Sampai 11 Januari 2004, ketika ia mangkat, orang baru menyadari bahwa sahabat dalam karangan itu adalah diri mereka sendiri, negeri ini sendiri. Selama bertahun-tahun, terutama semenjak Ufuk Timur, dewa mereka, melakukan blunder politik, dan si Tuan Janur Kuning, setelah 3 periode pertama pemerintahannya, terjerat jaring laba-laba, mereka telah terjangkiti penyakit cinta lampu. Hati mereka selalu diliputi dengki melihat rumah lain memiliki lampu yang besar dan benderang.

“Ada Bung Kecil di sebelah, yang mencintai dan meniru segala sepak terjang Bung Besar kita, senangnya hati andai ia memancar di rumah kita,” atau, “Indah benar matahari perempuan di Tanah 1000 Pagoda.”

Begitulah selalu. Apalagi para pendeta di padepokan mereka, yang karena terus-terusan berpuasa, telah demikian sakti hingga tak lagi mandraguna tarafnya, tapi sudah nirguna saja. Bersinar tanpa bersinar.

Di depan jenasahnya, mereka juga menyadari bahwa sebagaimana sang sahabat yang karena kecintaannya terhadap bola lampu itu, mereka telah kehilangan bola lampu 200 lilin, yang mampu menyiramkan tenaga gaib dalam diri mereka, tenaga gaib yang membukakan gembok tabut-tabut terkunci otak mereka.

Bola lampu yang hilang itu adalah Asrul Sani, penyair, cerpenis, esais, penulis/penerjemah/penyadur naskah drama dan skenario, sutradara teater dan film, dan masih banyak lagi.

Asrul lahir di Rao, Sumatra Barat, 10 Juni 1927. Meraih doktorandus di bidang Kedokteran Hewan pada tahun 1956. Antara 1951-53 sempat belajar di Akademi Seni Drama di Amsterdam, Belanda, lalu belajar film di University of Southern California, Amerika tahun 1955-56.
Orang mengenangnya sebagai anak bangsa yang tampan, cerdas dan bijak dalam mengartikulasikan pikirannya. Logikanya sangat kuat, pikirannya terseterika rapi, jarang ada yang menandinginya dalam debat. Ia memiliki perhatian dan bacaan yang luas, menguasai banyak bahasa, dari Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, konon juga Spanyol, dan tentu saja Minang dan Indonesia Tuturnya katanya jernih (sesuatu yang disukai oleh orang-orang negeri ini, sebab hidup mereka telah terlalu rumit, terlalu susah, untuk memahami pernyataan-pernyataan yang penuh anak kalimat atau bersayap), baik tulisan maupun lisanan, membuat mereka selalu hanyut dalam orasi-orasinya.

“Kalau pembicaraan asrul tanpa teks direkam dan kemudian rekamannya ditranskrip, niscaya tak banyak koreksi yang musti dibuat,” kenang Ajip Rosidi, orang pintar lain yang telah mengumpulkan dan menerbitkan sajak-sajak, cerpen-cerpen, dan esei-esei Asrul.

Semasa PKI hendak menasakomkan semua lembaga di tanah air, dengan mendesak agar mereka dapat menempatkan wakil-wakilnya, ia muncul dengan konsep “Nasakom jiwaku”, yang artinya kenasakoman tak perlu dinyatakan secara fisik berupa adanya wakil dari ketiga unsur Nasakom. Konsep itu disetujui oleh Sang Ufuk Timur, yang menyebut dirinya sendiri Pemimpin Besar Revolusi.

Dia pula yang menyusun Surat Kepercayaan Gelanggang yang menjadi dasar Angkatan 45 dalam sejarah seni republik ini. Dia juga menulis Surat Kepercayaan Gelanggang lain yang menjadi konsep fundamental Lesbumi (Lembaga Seniman dan Budayawan Mulismin Indonesia) yang ia dirikan bersama Usmar Ismail, nama yang juga bergandeng tangan dengannya mendirikan ATNI (Akademi Teater Nasional), yang telah melahirkan nama-nama besar seperti Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Sukarno M.Noor, Ismed M. Noor, Tatiek Maliyati, dan sebagainya.

Asrul juga merupakan salah satu peletak batu pertama Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) yang meliputi Akademi Jakarta (AJ), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ)-ia menjadi anggota AJ, pernah menjabat sebagai ketua DKJ, dan rektor IKJ.

Awal tahun 50-an ia mulai tertarik dengan dunia film. Terimalah Laguku (1952) menjadi langkah pertamanya memasuki dunia ini. Di sana, ia bertindak sebagai pengarang cerita.
Tahun 1954, bekerjasama dengan Usmar Ismail, ia menggarap Lewat Djam Malam. Kali ini selain pengarang cerita, ia turut menggarap skenarionya bersama Usmar, sang sutradara. Film ini mendapat Catatan Istimewa FFI 1955 untuk dialog yang digarapnya.

Sampai tiga film selanjutnya Asrul Sani tak berani melangkah lebih jauh dari bidang tulis-menulis. Ia kembali menjadi penulis skenario pada film Pegawai Tinggi yang ceritanya diadaptasi dari cerpen “Kalung” karya sastrawan Perancis, Guy de Maupassant, dan film Lagak Internasional (1955), serta pengarang cerita untuk Buru Bengkel (1956).
Baru pada tahun 1959, lewat Titian Serambut Dibelah Tudjuh ia berani menyutradarai sendiri. Lakon ini yang cerita dan skenarionya digarap sendiri oleh Asrul, kemudian difilmkan kembali oleh Chaerul Umam pada tahun 1982, dibiayai oleh Dewan Film Nasional, dan mendapat penghargaan PWI Jaya sebagai Film Drama Terbaik 1983.

Dari tahun 1952-1992, Asrul terlibat dalam 49 produksi film-belum termasuk film televisi yang kemudian hari lebih dikenal sebagai sinetron-baik sebagai penulis cerita, skenario, maupun sutradara, antara lain yang belum disebutkan adalah: Pagar Kawat Berduri (1961), Balada Kota Besar (1963), Pilihan Hati (1964), Fadjar Menyingsing di Permukaan Laut (1966), Apa yang Kau Tjari, Palupi? (1969), Malin Kundang (1971), Akhir Cinta di Atas Bukit (1971), Desa di Kaki Bukit (1972), Mutiara dalam Lumpur (1972), Salah Asuhan (1972), Bulan di Atas Kuburan (1973), Ibu Sejati (1973), Segenggam Harapan (1973), Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974), Ateng Mata Keranjang (1975), Tiga Sekawan (1975), Chicha (1976), Al Kautsar (1977), Gara-Gara Istri Muda (1977), Istriku Sayang Istriku Malang (1977), Kemelut Hidup (1979), Para Perintis Kemerdekaan (1977), Dr. Siti Pratiwi Kembali ke Desa (1979), Bawalah Aku Pergi (1981), Sorta (1982), Ke Ujung Dunia (1983), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985), Sebening Kaca (1985), Bintang Kejora (1986), Keluarga Markum (1986), Naga Bonar (1986), Takdir Marina (1986), Yang Perkasa (1986), Bunga Desa (1988), Gema Kampus 66 (1988), Istana Kecantikan (1988), Noesa Penida (Pelangi Kasih Pandansari) (1988), Kepingin Sih Kepingin (1990), Nanti Kapan-Kapan Sayang (1990), Nada & Dakwah (1991), Kuberikan Segalanya (1992), Pelangi di Nusa Laut (1992).

Dari seluruh produksi itu, Asrul mendapatkan 8 piala Citra. Tiga piala untuk pengarang cerita di film Sorta (FFI 1982), Naga Bonar (FFI 1987), dan Nada & Dakwah (FFI 1992). Lima lainnya untuk penulisan skenario Kemelut Hidup (FFI 1979), Bawalah Aku Pergi (1982), Titian Serambut Dibelah Tudjuh (FFI 1983), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (FFI 1986), dan Naga Bonar (FFI 1987). Menerima penghargaan Terpuji untuk skenario Nada & Dakwah dalam Festival Film Bandung (FFB) 1993.

Selain itu ia masih diunggulkan sebagai pengarang cerita, untukTitian Serambut Dibelah Tujuh (FFI 1988), Istana Kecantikan (FFI 1988), dan Kuberikan Segalanya (FFI 1992); unggulan sutradara terbaik untuk Kemelut Hidup (FFI 1979), Para Perintis Kemerdekaan (FFI 1979); serta nominasi untuk skenario Para Perintis Kemerdekaan (FFI 1979), Istana Kecantikan (FFI 1988), Noesa Penida (FFI 1989), dan Kuberikan Segalanya (FFI 1992).

Sebagai intelektual, Asrul tak hanya berhenti sebagai pekerja film, ia juga pemikir perfilman nasional. Sinematek Indonesia, sering diidentikan dengan H. Misbach Yusa biran, karena memang semenjak perintisan pada tahun 1971, peresmiannya pada tahun 1975, dan seterusnya dikelola oleh Yusa, namun ide lembaga itu tercetus dari kepala Asrul. Semasa menjabat Ketua Dewan Film Nasional (1971-1981), Asrul berusaha mengembalikan negative film-film Indonesia yang tersimpan di lab Hongkong dan Tokyo.

Dalam upaya itu, ia menemukan kenyataan pahit. 150 judul telah musnah, termasuk Apa yang Kau Tjari, Palupi? (1969), film yang penyutradaraan dan skenarionya ia garap berdasarkan cerita Satyagraha Hoerip dan menjadi Film Terbaik Festival Film Asia tahun 1970. Saat ia menjabat kembali pada periode selanjutnya (1981-1983), Dewan Film menunjuk panitia LJN Hoffman dengan SK No. 022.Kp/DPH/tgl. 31 Juli 1981 untuk mengembalikan induk negative yang belum dimusnahkan. Usaha ini pun terbentur masalah biaya, karena negative itu kena pajak bila dimasukan kembali ke Indonesia. Baru 10 tahun kemudian, terbitlah SK Menteri Keuangan No. 1929/KM.5 tgl. 4 Oktober 1994, yang membebaskan Bea Masuk bagi induk negative yang tersimpan di lab Hongkong dan Jepang, hingga masyarakat dapat menyaksikan lagi film-film lama dari masa 1970/1980-an.

Tak salah jika pada Pekan Asrul Sani 2004, penyair, eseis, dan pengamat teater “Yang Berdiam dalam Mikropon”, Afrizal Malna, menyebutnya sebagai “Tukang Jahit yang Ingin Menjahit Sejarah”, dan citranya membentuk gambaran sebuah spons yang besar yang mempunyai daya hisap luar biasa, karena ketenangannya yang bak air danau.

Mata Afrizal memang jeli. Asrul tak pernah datang dengan gagasan-gagasan besar, meskipun dialah orang selain Wiratmo Soekito yang menyebarkan teori dan pemikiran baru dari Barat pada masanya. Pernah dalam sebuah kesempatan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, ia berkata pada penyair Leon Agusta, bahwa orang sebaiknya melakukan apa yang bisa dilakukan, tak usah memikirkan dan bicara muluk-muluk.

Melakukan apa yang bisa dilakukan, tampaknya sepele saja, tapi melihat terjemahannya, lakon, roman, dan buku-buku lainnya, baik yang sudah diterbitkan maupun belum, atau yang memenuhi Bank Naskah DKJ, serta karya-karya yang lain, orang melihat sebuah energi raksasa yang mendirikan bulu kuduk.

Sebagaimana si gadis, Asrul telah menghadiahi kita lampu 60 lilin, yang akan menambah nafsu makan kita, menyehatkan otak kita, dan melelapkan tidur kita. Bukan karena ia tak mau lagi melihat tampang kita, tapi karena ajal menjemput. Tugas kita adalah menambah watt kita, agar lampu itu bisa terpasang, agar kita mampu menulis 300 halaman tebalnya, meski tanpa lampu 200 lilin. Jika mungkin menjadi lampu 200 lilin yang lain.

###

Advertisements

About this entry