Ben

Oleh Nuruddin Asyhadie

Benyamin

Benjamin Suaeb, boleh samseng improvisasi, boleh jago segala jago tengil, boleh si maharaja jahil, tapi ketika pintu dunia film terbuka untuk pertama kali dalam hidupnya, ‘kungfu’-nya seakan musnah.

Gemerlap layar lebar tentu saja menitikan liurnya, namun emaknya sudah mewanti agar jangan sekali-kali berani menginjakan kaki di sana, dan ia tak ingin jadi anak durhaka. Lama ia tertegun di ambang pintu itu, hingga Adung Saleh, sang kakak tiri meyakinkannya, “Udahlah Min, jangan didenger emak, sengsara kita.” Jadilah ia seorang Malin Kundang. Untungnya ia tak pula menjadi batu.

Honey, Money, and Djakarta Fair (1970) menjadi debut pertama Ben dalam film. Cucu Haji Ung yang lahir 5 Maret 1939 ini hanya muncul selintas, berperan sebagai artis yang sedang menyanyi di panggung Pekan Raya Jakarta. Bayaran yang diterimanya Rp. 35 ribu.

Pengalaman pertama itu membuat Ben merasa jengah, sebab untuk sekelumit adegan itu ia harus menunggu dari pagi hingga maghrib. Belum lagi pengulangan-pengulangan adegan yang harus dilakukannya.

Toh takdir berkata lain. Tahun 1971, ia ditawari bermain sebagai Bang Miun, dalam Banteng Betawi, sebuah film yang mengisahkan kepahlawanan si Pitung. Sebagai cucu pendekar Betawi, Ben tentu saja tak mampu menolak. Dari sinilah ia mulai merasakan nikmatnya beraksi di depan kamera. Sepanjang karir layar lebarnya, ada 52 judul film lagi yang turut ia mainkan. Ia sempat pula meraih Piala Citra sebagai Pemeran Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia 1973 lewat Intan Berduri dan 1976 dengan Si Doel Anak Modern . Bahkan, ia memperlebar langkahnya di dunia film dengan menjadi produser dan sutradara melalui PT. Jiung Film (1974-1979).

Saat menyabet Piala Citra untuk Pemeran Pria Terbaik tahun 1973, banyak orang tak percaya. Bagaimana mungkin seorang penyanyi gambang kromong dan pelawak menjadi aktor? Tapi 50 suara dari 75 juri memilih Ben.

Ben menjawab keraguan itu dengan santai, “Kalau sudah rejeki gue, nasi sebutir, biarpun sudah ke Vietnam, tetap aja akan kembali ke gue.”

Tak cukup dengan omongan, tiga tahun kemudian ia menjawab keraguan terhadap kecakapan seni perannya dengan kembali merebut Pemeran Pria Terbaik pada FFI 1976, melalui aktingnya sebagai si Doel.

Turino Djunaidi, produser sekaligus sutradara Intan Berduri melihat Ben sebagai aktor ulet, kritis, dan mampu menyampaikan pesan dalam film. Baginya, Ben adalah seorang aktor, meski ia banyak bermain di film komedi.

Sementara bagi sutradara kawakan, Syumandjaja, Ben memiliki kesadaran dalam menghayati cerita dan karakter dalam peran-peran serius, itulah sebabnya ia mengajak Ben main dalam Si Doel Anak Modern.

Tak semuanya musti setuju dengan isap jempol itu. Ridwan Saidi, misalnya. Bagi budayawan Betawi ini, Benyamin tak lebih penghibur biasa. “Biar pun digali kayak apa, akan tidak sama kalau kita membicarakan seorang pemikir,” demikianlah katanya. Walau tetap mengakui pencapaian Benyamin dalam film Si Doel Anak Modern, dan tak menyangkal popularitasnya, Ridwan tetap membedakan Ben dengan Hamid Arif atau Fifi Young.

Gaya lawakan dan film-film Ben menurut Ridwan seperti galibnya anak Betawi di kampung-kampung: ladek, konyol, tak berstruktur, dan mengkonsumsi selerah rendah. Terasa pedas memang apa yang dikatakan Ridwan.

Putu Wijaya, lebih berimbang dalam melihat sosok Benyamin. Dalam hematnya, Ben memiliki potensi dalam berakting dan pantas mendapatkan Piala Citra, namun tampaknya Ben tak berambisi menjadi aktor, tetapi penghibur.

Putu juga melihat hal yang sama dalam kemampuan Ben di tarik atau tarik suara. Saat menyanyikan lagu Maafkan atau Tidak Datang dalam Pernikahanmu, terselip irama blues dan nuansa jazz, namun Ben enggan menekuni dua jeni musik itu.
“Menurut saya, dia memiliki potensi, tapi tidak mau memilih tempat di sana,” komentar Putu.

Manakah tempat yang dipilih Ben?

Dalam Pos Sore edisi 18 Februari 1976, Ben mengatakan bahwa ia lebih senang disebut kampungan daripada kotaan. Sasaran dan tujuan karirnya adalah orang kampung, dan ia akan terus membuat lagu, lawakan, dan film untuk orang-orang kampung. Biarlah orang kota meninggalkannya asal bukan orang kampung. Jika seni kotaan atau elitis sulit dicerna, tak semua orang tau seni, tak semua orang paham kreativitas dan aspirasi seniman.

“Aku tak suka gunung, ratakan saja dengan tanah,” demikianlah sebuah kalimat yang tertulis di bagian kanan bawah ukisan potret diri Ben saat memenangkan penghargaan untuk filmnya Si Doel Anak Modern. Kalimat itu menggambarkan sepenuhnya sikap Benyamin dalam berkesenian.

Tapi janganlah salah, satu hal yang harus digarisbawahi dari Ben adalah menjadi tanah tak selalu berarti sampah. Seni kampungan tak musti kacangan. Sehingga dalam kamus bahasa Indonesia, kita tak perlu lagi membaca definisi populer sebagai “yang disukai banyak orang”, “yang mudah dimengerti banyak orang”, dalam bias makna “murahan”.

###

Advertisements

About this entry