(Arwah Protes) Nyak Abbas Akup

Nuruddin Asyhadie

Saya Nyak Abbas Akup, sutradara, eh bukan…reporter. Mohon maaf jika saya bangkit dari kubur, hingga mengejutkan saudara-saudara. Alasan saya kenapa bangun lagi sebab saya dengar ada orang bicara hal-hal baik tentang diri saya. Saya tidak suka orang bicara baik-baik tentang diri saya, sebab yang baik kebanyakan munafik. Masih ingat Eddy, jago tembak yang menyelamatkan Vivi, putri Bing si Koboi Cengeng? Musuh dalam selimut dia. Pura-pura menolong, sehingga kemudian dijadikan sahabat, tapi sesungguhnya menyimpan rahasia jahat. Masih ingat Pak Lurah dalam Mat Dower. Ah maaf, maaf, dia lebih suka dipanggil Matdikipe. Bisa apa dia coba, si Lurah itu, coba. Ngaku-ngaku orang baik, pahlawan, padahal cacing tanah. Saya juga benci yang baik-baik karena kalau semuanya baik, apalagi yang mau dikritik. Kalau tidak ada yang dikritik, terus saya bikin film apa?

Saya nggak bisa buat film baik, film drama. Pernah bikin satu kali. Catatan Harian Seorang Gadis judulnya, tapi tak terdengar suaranya. Lalu saya buat komedi lagi, judulnya Ambisi. Sukses lagi di pasaran. Dapat penghargaan Djamaluddin Malik sebagai film komedi terbaik FFI 1997. Syukurlah.

Sesungguhnya saya selalu pengen membikin film baik, serius. Sebelum kena serangan jantung, menjelang akhir proses penggarapan Boneka dari Indiana, seorang kritikus pernah datang ke saya, lalu saya bilang padanya, “Saya sudah capai membuat film komedi. Sesudah ini saya ingin membuat film drama.” Saya ceritakan bahwa film ini tentang seorang yang telah meninggal dunia, tapi kemudian arwahnya protes, karena orang-orang yang memberi sambutan pada upacara penguburannya menyatakan hal-hal baik tentang dirinya. Sang arwah protes karena apa yang diucapkan dalam sambutan justru berlawanan dengan dirinya, yang banyak kelemahan dalam kehidupannya. Si kritikus langsung menyela, “Lho ini kan cerita komedi?” Saya jawab, “Ini bukan film komedi. Ini serius.”

Film-film saya yang lain, yang katanya komedi, dan memang jadinya komedi, mula-mula maksudnya serius. Seperti saya bilang, saya bukan sutradara, tapi reporter. Saya hanya melukiskan apa adanya. Cuman mungkin karena saya yang menggambarkan, maka dia jadi tampak lucu, karena ada jarak antara penonton dan yang ditonton. Dan lagi saya juga tidak bermaksud mendidik. Samasekali tidak. Kan saya bukan guru.

Kalau saya sutradara saya pasti akan bikin film yang hebat-hebat. Gagasan yang mentit-mentit, filosofis. Plot yang rumit. Gambar yang canggih. Nyatanya saya cuman ngomong soal-soal sepeleh, penggusuran, etos kerja, TKW, babu seksi. Cuman bisa buat plot gaya kuno, gaya teater tiga babak Yunani: awal, tengah, akhir. Cuman bisa buat gambar yang itu-itu saja. Cumandjaya. He he he..tidak, tidak, saya hanya bercanda, seperti waktu saya plesetkan Karmila jadi Karminem, Kabut Sutra Ungu jadi Koboi Sutra Ungu. Ya bagaimana lagi, saya ini kata Soemardjono, orangnya, salah ding, arwahnya, brutaal, bahasa Belanda buat orang sableng. Tapi menarik…maar aardig kata Soemardjono lagi .

Selain itu saya juga tidak bisa membangun struktur film yang utuh. Film saya melompat-lompat, hanya jatuh pada sketsa. Padahal dua tahun saya kuliah penyutradaraan di Amerika, di Departemen Teater dan Film di Universitas California Los Angeles atas biaya Rockefeller Foundation. Apa nggak hebat? Maklumlah, saya doyannya tempe, tahu, dan krupuk, apa lagi tempe dan tahu Malang, tempat saya lahir dan dibesarkan bersama 4 saudara lainnya, semua laki-laki, dan semua pakai Nya, bukan dari singkatan nyonya, atau enyak dalam bahasa Betawi. Nya itu …..pokoknya nama khas Aceh. Bapak saya, Nya Akup, asli Aceh, Ibu Jawa. Walau pakai kata Nya di depan dan nama bapak di belakang nama saya, tapi saya tak tahu menahu soal Aceh, saya lebih merasa sebagai orang Jawa. Barangkali karena saya sudah jatuh cinta sama tempe dan tahu Malang.

Kembali ke Tahu dan tempe. Katanya sih tahu dan tempe itu bergizi, tapi itu tahu dan tempe luar negeri, yang kedelainya punya mutu baik, kedelai di negeri kita sudah kopong (kosong-melompong) vitaminnya, luntur dicuci pestisida. Daripada malu, waktu diwawancari Ria Film, ya saya bilang saja kalau itu film gaya baru. Belum ada film yang melompat-lompat seperti itu. Kalau mau mencari kepribadian nasional, film saya ini punya andil. Kenapa? Karena orang Indonesia pikirannya suka melompat-lompat, cari uangnya juga lompat-lompat. Itu karena orang kita “cepat kaki ringan tangan”, artinya hiperaktif! He he he.

Saya Nyak Abbas Akup, sutradara, eh bukan…reporter. Karena saya reporter, maka wajar saja kalau saya tidak pernah menggondol Citra buat penyutradaraan. Saya mandah saja, sadar diri, walau ada sih sedikit rasa iri.

Sebagai reporter, saya musti realistis, bukan hanya pada tema-tema yang saya ambil, tapi juga sikap hidup saya. Waktu kuliah Fakultas Hukum UI, bersama beberapa teman, saya berniat melamar jadi pegawai kantor imigrasi, eh malah hinggap di Perfini.

Sikap saya dalam berfilm pun realistis. Begini ya, menurut saya film itu ada empat macam. Pertama, film yang mengeksplorasi naluri rendah. Dua, film yang menyenangkan mata dan perasaan. Tiga, film yang mengajak pikiran turut terlibat. Empat, film yang sampai pada pemuasan spiritual. Nah, Indonesia masih mengeksploitasi yang pertama dan kedua, yaitu naluri rendah dan yang menyenangkan mata dan perasaan saja. Sebagai orang yang realistis, maka saya pun bermain di sana, biar bisa hidup. Masak saya harus seperti Udel dalam Heboh, memainkan okulele dan bernyanyi, “Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam, menanam modal yang tumbuh rugi.” Jangan sampailah. Sebab itu saya sarankan pada sineas muda, agar membuat film pertama yang sukses, biar jalannya lempeng.

Mungkin kalau saya juga seorang produser, punya duit banyak, saya bisa membuat film yang turut melibatkan pikiran. Sayangnya, saya keburu dipanggil.

Tapi saya tidak lupa sama cita-cita ingin buat film serius tentang arwah yang protes pada kemunafikan. Saya akan kasih judul apa ya…ahhh, mungkin (Arwah Protes), rasanya cukup segar, atau …. ah, nanti sajalah, judul itu gampang. Saya biasa mengganti-ganti judul, seperti Babu Sexy yang berubah jadi Inem Pelayan Sexy. Yang penting, apa yang Anda lihat kali ini-membaca kan juga sebuah aktivitas melihat- adalah bagian awal dari film itu. Adalah protes arwah saya.

###

Ket: Tanda kurung pada judul Arwah Protes adalah sebuah penundaan, artinya ia hanyalah sebuah fiksi.

FILMOGRAFI NYA ABBAS AKUP*

1950-an

Kafedo (1953, asisten sutradara)

Harimau Tjampa (1953, asisten sutradara)

Heboh (1954, sutradara, cerita, skenario)

Tiga Dara (1956, pemain)

Djuara 1960 (1956, sutradara, cerita, skenario)

Tiga Buronan (1957, sutradara, cerita, skenario)

Djendral Kantjil (1958, sutradara, skenario)

1960-an

Asmara dan Wanita (1961, cerita, skenario)

Penjeberangan (1963, pemimpin produksi, co-skenario)

Langkah-langkah Dipersimpangan (1965, sutradara, skenario)

Tikungan Maut (1966, sutradara, skenario)

Nenny (1968, sutradara, skenario)

Matt Dower (1969, sutradara, cerita, skenario)

1970-an

Dunia Belum Kiamat (1971, sutradara, skenario)

Catatan Seorang Gadis (1972, sutradara, cerita, skenario)

Ambisi (1973, sutradara, cerita, skenario)

Bing Slamet Koboi Cengeng (1974, sutradara, cerita, skenario)

Ateng Minta Kawin (1974, sutradara, cerita, skenario)

Drakula Mantu (1974, sutradara, cerita, skenario)

Tiga Cewek Badung (1974, sutradara, cerita, skenario)

Cintaku di Kampus Biru (1976, co-skenario)

Inem Pelayan Sexy (1976, sutradara, cerita, skenario)

Karminem (1977, sutradara, cerita, skenario)

Bang Kojak (1977, cerita)

Petualang Cilik (1977, skenario)

Inem Pelayan Sexy II (1977, sutradara, cerita, skenario)

Inem Pelayan Sexy III (1977, sutradara, cerita, skenario)

Kisah Cinta Rojali dan Juleha (1979, sutradara, cerita, skenario)

1980-an

Gadis (1980, sutradara, skenario)

Koboi Sutra Ungu (1981, sutradara, skenario)

Apanya Dong (1983, sutradara, cerita, skenario)

Semua karena Ginah (1985, sutradara, cerita, skenario)

Cintaku di Rumah Susun (1987, sutradara, cerita, skenario)

Kipas-Kipas Cari Angin (1989, sutradara, cerita, skenario)

1990-an

– Boneka dari Indiana (1990, sutradara, cerita, skenario)

– Inem Pelayan Sexy (serial televisi, 26 episode, 1998, cerita)

– Inem Sang Pelayan (serial televisi, 13 episode, 1998, cerita)

* Disalin dari Harun Suwardi, tuling ulang Veven Sp. Wardhana, 2006, Kritik Sosial dalam Film Komedi; Studi Khusus Tujuh Film Nya Abbas Akup, FFTV-IKJ PRESS

Advertisements

About this entry