Sebuah Pertanyaan untuk “Jihad”

Oleh Nuruddin Asyhadie

Bom Bali I dan II, merupakan bagian dari terorisme global bakda tragedi 11 September, membuat penasaran Larry Y. Higgs, President & Executive Producer TeleProduction International, Ltd (TPI). Ia pun memutuskan untuk memproduksi sebuah dokudrama tentang Bom Bali I. Dipilihlah Wong Wai Leng dan Andy Logam-Tan dari Singapore sebagai penulis naskah, Kalyana Shira sebagai produser, dan Enison Sinaro sebagai sutradara.

Setelah dipersiapkan semenjak Oktober 2005, dan sempat tak direstui oleh Badan Pembina Perfilman Daerah (Bafida) Bali untuk mengambil gambar di Bali, kini film yang masih belum bernama itu telah memasuki proses editing.

Berikut wawancara saya untuk majalah F dengan Larry Y. Higgs (LH) mengenai film tersebut dan pandangannya terhadap insan film Indonesia. Sedikit bocoran, katanya ia kini kagum berat dengan sineas Indonesia!


N: Bom Bali I dan II telah menarik perhatian masyarakat dunia, secara khusus apakah yang menggoda hati TPI untuk membuat sebuah film mengenai tragedi ini?

LH: Beberapa tahun lalu, TPI memproduksi sebuah film dokumenter berjudul Jihad: The Sword of Islam. Film tersebut menyajikan berbagai makna jihad di berbagai negara, termasuk Indonesia, Saudi Arabia, Iran, dan India. Jihad dibuka dengan situasi malam hari saat terjadinya bom Bali pada tanggal 12 Oktober 2002, dan entah mengapa saya merasa ia merupakan sebuah momentum penting dalam perang melawan terorisme. Saya tak mengerti mengapa mereka menyerang wisatawan asing di Bali. Demi menemukan jawabannya, saya pun, seketika itu pula, meneliti peristiwa tersebut, menonton beberapa film dokumenter, membaca buku-buku, dan berbincang dengan banyak orang, baik di Amerika maupun Indonesia. Hingga kemudian, tampak jelas bagi saya peristiwa tersebut menyimpan sebuah kisah dramatis yang sangat menarik, namun tak seorang pun menyadarinya atau mencoba mengangkatnya, maka saya memutuskan untuk menggarapnya.

N: TPI biasanya membuat program-program non-fiksi. Sepengetahuan saya, pada mulanya film ini-di bawah “Bali Bombing Project”-juga dimaksudkan sebagai dokudrama, namun kemudian menjadi film cerita. Apakah alasan di balik perubahan itu?

LH: Saya tak pernah merubah genre film tersebut, saya tetap menginginkan cita rasa doku-drama di dalamnya. Saya kira gambaran yang terbaik untuk film ini adalah “sebuah film berdasarkan kisah nyata”.

N: Ini adalah film fiksi atau layar lebar pertama dari TPI?

LH: Benar, tetapi bukan yang terakhir. Kami telah menyiapkan proyek film layar lebar selanjutnya.

N: Dalam membuat berbagai program televisi, TPI banyak bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain di dunia. Apakah kebijakan ini sekedar kalkulasi ekonomi atau barangkali ada sebuah kesadaran tertentu, ideologi tertentu, glokalisasi, misalnya?

LH: Kami memang mengembangkan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan di berbagai negara dalam memproduksi program-program televisi, atau memesan program-program televisi dari mereka. Sekrang kami bekerja sama dengan seorang produser di Kolombia dalam pembuatan sebuah film dokumenter tentang bisnis pertambangan jamrud, kami juga tengah bekerjasama dengan produser-produser di Mumbai dan Manila untuk memproduksi serial animasi berdurasi setengah jam. Seorang produser dari damaskus baru menyelesaikan proyek percontohan konten mobil TV untuk TPI dan kami baru saja memulai sebuah proyek baru dengan seorang produser Kroasia mengenai masa depan Balkan. Bekerjasama dengan pekerja-pekerja lokal memberi keuntungan ekonomis, biaya produksi jadi lebih rendah. Mereka berkomunikasi dalam bahasa setempat, paham wilayahnya dan memiliki kontak-kontak untuk keberhasilan proyek yang sedang dijalankan. Selama ini kerjasama yang dengan produser-produser dari negara lain berhasil dengan baik, dan kami ingin terus mengembangkannya, selama proyek tersebut memiliki daya tarik internasional dan secara finansial memungkinkan.

N: Bagaimana hingga TPI dapat bekerjasama dengan Kalyana Shira dalam produksi kali ini? Bagaimana TPI menemukan dan memilih Kalyana Shira, Enison Sinaro sebagai sutradara, dan Wong Wai Leng dan Andy Logam-Tan sebagai penulis skenario?

LH: Saya menghabiskan waktu setahun untuk mengembangkan proyek ini. Saya pergi ke Thailand, Malaysia, Singapore, dan Indonesia untuk mencari penulis, sutradara, rumah produksi. Saya berdiskusi banyak dengan kolega-kolega saya mengenai siapa yang pantas dan saya menemui mereka. Sampai akhirnya, saya memilih empat penulis dan meminta mereka mengirimkan treatment pendek tentang peristiwa bom Bali. Dua orang penulis dari Indonesia, satu dari Malaysia dan setim penulis dari Singapore. Setelah membaca treatment yang dikirimkan, saya merasa tim dari Singapore, yaitu Andy Logam-Tan dan Wong Wei Leng, memiliki pendekatan yang paling menarik. Saya kemudian meminta mereka mengembangkan treatmen itu menjadi 20 halaman, agar saya yakin peristiwa bom Bali dapat diceritakan secara menarik, dramatis, namun tidak konvensional. Setelah hampir10 bulan dan empat draft naskah, baru saya mendapatkan skrip yang sesuai dengan keinginan. Setelah saya mendapatkan skrip tersebut, saya menemui tiga rumah produksi, dua dari Singapore dan satu dari Jakarta. Saya meminta mereka memberikan budget produksi untuk film tersebut. Setelah memeriksa proposal dari ketiga rumah produksi tersebut, saya memilih bekerjasama dengan Kalyana Shira. Perlu diketahui, budget yang ditawarkan oleh Kalyana Shira bukan harga yang terendah, namun ia memiliki nilai produksi yang paling baik. Dari rekomendasi Kalyana Shira, saya menemui beberapa sutradara Indonesia dan menonton show reel mereka. Akhirnya, Kiki, Nia dan saya setuju Enison Sinaro memiliki pengalaman dan visi untuk menyutradari film ini.

N: Hal yang sangat menarik adalah TPI menyerahkan sepenuhnya persoalan produksi ke Kalyana Shira.

LH: Saya khawatir pernyataan Anda kurang tepat. Saya mencari penulis, rumah produksi, dan sutradara, menyetujui para pemerannya, dan melaksanakannya bersama Kalyana Shira berdasarkan budget final. Saya juga mengawasi proses pengeditan, dan akan terlibat terus hingga selesai. Yang benar adalah, Kalyana Shira bertanggung jawab terhadap seluruh keputusan harian dan mereka telah melakukannya dengan sangat baik, luar biasa. Dipimpin oleh Constantin (Kiki) Papadimitriou dan Nia Dinata, Kalyana Shira saat ini merupakan salah satu dari rumah produksi yang paling aktif dan sukses di Indonesia, mempercayai mereka untuk mengambil keputusan harian dalam produksi film ini adalah keputusan yang sangat tepat.

N: Bagaimana Anda memandang kemampuan para sineas Indonesia atau Asia Tenggara?

LH: Saya minta maaf, pada mulanya saya sedikit ragu, namun setelah melihat beberapa film yang diproduksi Kalyana Shira dan duduk bersama dalam rapat-rapat pra produksi, saya menyadari bahwa mereka adalah para profesional yang serius. Ketika berada di lokasi, berada di antara kru dan melihat betapa semuanya terorganisir dengan baik, betapa kerasnya mereka bekerja, saya sangat kagum dengan industri film Indonesia. Saya tercengang meliaht kreativitas dan kualitas produksi yang mereka berikan.

N: Apa rencana TPI dengan film ini?

LH: Rencananya kami akan merelease film ini di bioskop-bioskop Asi Tenggara pada bulan Januari 2007, plus mengirim film ini ke beberapa festival film internasional dan pasar film internasional. Semoga, kami bisa mendapatkan distributor yang bagus. Setelah memutarnya di bioskop, kami akan menerbitkan versi DVD dan menjualnya ke televisi. Seluruh siklus pasar itu kira-kira memerlukan waktu dua tahun.

N: Ceruk pasar manakah yang dibidik oleh TPI untuk film ini?

LH: Pertanyaan yang menarik! Ini bukan film Disney, hingga tentunya tak bisa ditonton oleh anak-anak. Saya kira film ini akan menarik minat penonton remaja dan paruh baya, mereka yang tertarik dengan film drama dan ingin memahami apa yang terjadi dalam perang melawan terorisme.

N: Kemana sajakah film ini akan didistribusikan?

LH: Kami berharap film ini dapat ditonton di seluruh dunia. Saya sangat mengerti bahwa film-film Indonesia biasanya tak diputar di luar Asia Tenggara, namun film kami ini berbeda. Kisahnya bertumpu pada sebuah peristiwa tragis yang diketahui oleh seluruh dunia. Kami menggunakan pemain-pemain multinasional, skrip yang dahsyat, karakter-karakter yang suka memaksakan kehendak, produksi yang sempurna, dan, jika masih belum cukup, film ini diproduksi dalam bahasa Indonesia dan Inggris untuk menarik penonton yang lebih luas. Saat film ini selesai, saya ingin dengan dada terangkat mengumumkan bahwa “Bali-Paradise Lost” akan segera diputar di bioskop di dekat Anda.

###

Advertisements

About this entry