Hancurnya Menara Suci Penciptaan

Oleh Nuruddin Asyhadie

“Sebab menulis adalah aktivitas yang paling funky dan seksi”–Putut EA

Buku, kitab, atau lebih umum, tulisan, selama ini selalu dipandang sebagai sebuah unitas, totalitas sempurna, yang langsung maupun tidak mempengaruhi seluruh kebudayaan manusia. Sebagai sebuah totalitas, buku menyimpan transendensi tertentu, kesucian, kebenaran dan keabadian. Itulah sebabnya operasi menulis selalu dipandang sebagai aktivitas yang serius, ngungun, sungguh-sungguh dan singit.

Sebelum menuliskan sajak-sajak mereka, para kawi Jawa Kuno musti melakukan semacam yoga, religio potae. Mereka mendaki gunung-gunung, menjelejahi lereng, hutan-hutan di perbukitan, jurang yang gelap dan dalam, sabana luas, menyusuri sungai pada lembah, pantai, dan batu karang yang menjulang untuk mendapatkan langö, rasa terpesona yang akan menelan kesubyekan mereka, menghapus kedirian mereka, intelektualitas, dan persepsi mereka mentah-mentah, sehingga mereka secara total mengalami penyatuan dengan Saraswati, dewi kesusastraan, yang merupakan hakekat huruf, awal mula dan tujuan sebuah sajak atau perlambang, pangeran para Kawi yang bersembunyi pada setiap remah debu pensil.

Dalam terminologi modern, semua itu digantikan dengan apa yang disebut penghayatan. Sebuah aktivitas yang tak kalah saktinya dengan yoga. Penghayatanlah yang menggerakan Knut Hamsun untuk menulis novelnya The Sult tanpa memperdulikan perutnya yang kelaparan; menggelapkan mata Marquiz de Shade sampai lelaki yang namanya dijadikan sebagai monumen kekejaman itu, mengiris jari-jemarinya sendiri dan menjadikan darahnya sebagai tinta prosa-prosanya yang saru yang ia tulis di atas kain baju, celana, kaos kaki, dan sepatunya; penghayatanlah yang melemparkan tubuh Virginia Woolf ke sungai Ose, menggelandangkan jiwa Chairil dan Rimbaud ke kemuraman dan fauvisme.

Akan tetapi bagaimana segala kejumudan itu dapat bertahan di tengah kehidupan yang banal? Kehidupan yang sebagaimana Feurbach gumunkan dalam pengantarnya bagi edisi kedua The Essence of Christianity, lebih mementingkan tanda daripada petanda, kopian tinimbang yang asli, khayalan dari realitas, penampakan ketimbang esensi, sehingga hanya ilusilah yang kudus dan kebenaran menjadi barang yang tak senonoh.

Gugatan semacam itulah yang tampaknya ingin diajukan oleh Sebuah Kitab yang Tak Suci (2001), kumpulan cerpen pertama Puthut EA, seorang penulis muda pendatang baru dari Yogyakarta, yang kemunculannya di dunia prosa kita diam-diam cukup fenomenal.

Pada kata pengantarnya yang berjudul “Sebuah Kitab yang Tak Suci (Catatan Belanja Penulis)” Puthut menuliskan semacam kredo bagi proses kreatifnya: “Sebab menulis adalah aktivitas yang paling funky dan seksi!”.
Kredo ini segera mensugestikan kepada kita pelucutan tulisan dari katedral suci dunia penciptaan atau produksi ke kubang konsumsi.

Konsumsi, dalam lapangan studi kebudayaan (cultural studies) dipandang sebagai sebuah sistem diferensiasi-sistem pembentukan perbedaan status, simbol dan prestise sosial. Sistem ini menandai lahirnya masyarakat konsumen, yaitu masyarakat yang hidup dalam “sublasi”-terminologi Hegelian untuk tindakan pemberian makna-yang di dalamnya obyek konsumsi dipandang sebagai ekspresi atau ekternalisasi diri, sekaligus internalisasi nilai-nilai sosial budaya yang terkandung dalam obyek konsumsi.

Di dalam simulakrum (ruang tanda) konsumsi, diri bukanlah representasi dari ‘Yang Ada Yang Absolut’, diri merupakan sebentuk moratorium, citraan yang terus menerus menyusun dan meluluhlantakan bangun kepribadiannya sendiri, ia adalah diri yang selalu tertunda, dan untuk itu maka ia musti diletakan dalam sebuah tanda kurung.

Peletakan dalam tanda kurung ini menarik seluruh hak prerogatif diri sebagai mainstream subyek sui generis dan menjatuhkannya ke dalam locus of deepened dependence, keterjeratan pada sarang laba-laba, di mana barang-barang yang diproduksi dilahap tanpa jeda, dikunyah dalam sebuah keterpukauan, gairah yang menyala, ekstasi tak bertepi, yang kadarnya semakin lama semakin dipertinggi oleh lack, perasaan yang terus menerus direproduksi oleh apa yang disebut oleh Deleuze dan Guattari, mesin hasrat (desire machine).

Dari kacamata konsumsi seperti itu, maka tulisan tak lagi merupakan teritori tertutup, tulisan kini menjadi sebuah sabana luas yang terbuka, tak seorangpun boleh mengklaim kepemilikannya, ia menjadi propinsi yang senantiasa ternoda, ruang massa tanpa hak paten.

Keterbukaan ini melego tulisan atau buku dari transendensinya, kesucian, kebenaran dan keabadiannya, sebab semua itu mengandaikan interioritas, ketertutupan terhadap eksterioritas atau hal-hal di luar dirinya.

Sementara ‘menulis’ kemudian tak lain dari sekedar pembelanjaan dan pendekontruksian tanda dalam rangka bermain-main dengan tanda itu sendiri, citraan dan medianya. Tak ada lagi ideologi, pesan, atau informasi. Hanya gelak komunikasi dan canda tanda.

Ke-funky-an dan keseksian itu pada dua belas cerpen dalam kumpulan ini, mendapatkan bentuknya lewat strategi transposisi, yaitu pelintasan dari satu sistem tanda ke sistem tanda lainnya, yang dalam perjalanannya-sepanjang lintasan tersebut-satu atau sebagian sistem tanda yang digunakan meng-coup d’etat sistem tanda referensi yang seringkali merupakan narasi besar (grand naration).

“Rahim itu Berisi Cahaya” misalnya, yang berkisah tentang seorang perempuan yang berjanji untuk wadat karena tak terima atas penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam, namun kemudian melanggar sumpahnya sendiri ketika pada suatu hari seorang laki-laki datang ke hadapan. Seorang laki-laki yang serba biasa. Hanya demi mendengar bahwa laki-laki tersebut adalah orang pertama yang ada bersama Adam, namun karena kalah bertaruh soal warna buah apel, maka ia terlahir jutaan tahun lagi setelah Adam nongol, perempuan itu pun jatuh cinta.

Si laki-laki sendiri menyimpan sebuah dendam kepada Adam. Ia yakin bahwa warna yang ditebaknya benar, ia yakin jika apel berwarna ungu, akan tetapi takdir telah bersekutu dengan Adam dan merubah warna apel menjadi merah, sebagaimana yang ditebak oleh Adam.

Oleh semacam rasa senasib, serta atas nama cinta, perempuan itu pun melanggar wadatnya. Ia menikahi laki-laki tersebut. Dendam atas kekalahan suaminya dari Adam dan kegeraman perempuan itu terhadap ketidakadilan penciptaan Hawa membuat mereka sepakat untuk tak meneruskan lagi kelahiran manusia. Sebab, mereka pikir dengan melahirkan anak manusia, Adam tentu akan tertawa kegirangan.

Lalu datanglah sesosok makhluk berbulu yang terlahir jauh lebih tua dibanding Adam. Makhluk itu muncul dari celah jendela kamar dan berbicara dalam bahasa yang bukan bahasa manusia, yang entah bagaimana dapat dipahami oleh suami-istri tersebut. Ia menyarankan agar mereka tak meneruskan niat untuk tetap tak mempunyai anak. Hanya saja, bayi yang kelak mereka lahirkan bukanlah bayi manusia namun cahaya, sehingga dengan demikian dendam mereka terhadap Adam dan Hawa tidak saja akan terlampiaskan, tetapi sekaligus mempecundangi nenek moyang manusia itu.

Disebabkan pikiran-pikiran akan pembalasan dendam dan kemenangan, maka pasangan suami istri inipun akhirnya setuju untuk melahirkan seorang anak. Bayi cahaya.

Dalam cerpen ini, sistem tanda Adam dan Hawa yang merupakan teks referensi direduksi secara politis untuk sebuah tujuan kritis yang timbul dari rasa cemburu. Alegori ini begitu berbahaya, sebab dengan mudah ia akan meluncur pada pemilihan ideologi tertentu, feminisme, yang akan mengancam proyek tulisan sebagai konsumsi, yang telah semenjak awal terbangun dalam kumpulan ini. Namun secara cerdas tebing rapuh itu terlewati. Muncul karakter laki-laki, pemberontak sistem tanda Adam dan Hawa lain. Kedua sistem tanda negasi itu kemudian berkomplot, untuk secara radikal menghancurkan narasi besar sistem tanda Adam dan Hawa. Cukupkah?

Tidak.

Komplotan itu terlalu realistis bagi sebuah dunia konsumsi, dunia jejal mimpi-mimpi. Ia menjadi realistis, justru karena tidak hadir secara nyata dan hanya merupakan pikiran gelap yang berusaha dipelihara dengan keputusan untuk tidak beranak. Ia menjadi realistis, sebab sebagaimana dalam kehidupan sesungguhnya, pemberontakan terhadap sistem tanda utama Adam dan Hawa itu hanya berada pada tingkat idealitas dan wacana. Maka diperlukan sistem tanda lain, yang akan membebaskan keduanya dari belenggu “realisme” semacam itu, yaitu sistem tanda “bayi cahaya”, yang diselundupkan melalui sebuah agen makhluk berbulu. Sistem tanda ‘bayi cahaya’ itu dengan seketika memotong kaki ketiga sistem tanda sebelumnya, melayangkan keduanya ke atmosfer mimpi, kegairahan dan ekstasi.

Dialogisme yang berjalan begitu kompleks semacam itu ada secara berkanjang dalam cerpen-cerpen Puthut. Alegori, dekonstruksi, dan bahkan pastiche saling bertaut-tindih. Hanya satu hal yang bisa kita tangkap di dalamnya; jika fiksi dipercaya sebagai kebohongan yang meyakinkan, cerpen-cerpen yang tersusun dalam kumpulan ini justru sebaliknya. Cerpen-cerpen itu menampilkan kebohongan yang sangat tak meyakinkan, omong kosong maha besar yang memualkan-namun saking memualkannya, sampai-sampai tak sedetikpun tersedia kesempatan bagi kita untuk berpikir di dalamnya-kebohongan itu membetot seluruh rasa lapar dan menggelitik gigi kita untuk terus-menerus mengunyah. Dan setelah santapan itu tandas, kita tersentak oleh kekosongan yang ditonjokkan olehnya. Rasa kosong yang muncul sebab kita telah kehilangan kenikmatan kebohongan dan omong kosong, hasis yang melayangkan jiwa kita serasa ke udara tanpa dasar.

###

Advertisements

About this entry