Animasi untuk Semua!

Oleh Nuruddin Asyhadie

Wahyu AdityaWahyu Aditya adalah seorang animator muda Indonesia yang baru-baru ini meraih penghargaan sebagai International Young Screen Entrepreneur of the Year 2007, dari British Council. Ia mengungguli saingannya tahun ini dari India, Cina, Brazil, Polandia, Slovenia, Lithuania, Nigeria, dan Lebanon, dan menggondol hadiah sebesar £ 7,500 (sekitar Rp. 138 juta), yang akan dipakai untuk membiayai film animasi serta taman bermain yang terinspirasi dari tokoh-tokoh rekaannya sendiri.

Lahir 4 Maret 1980, pada usia 27 tahun, alumnus D3 di KvB Institute of Technology Sydney, jurusan multimedia yang pernah bekerja sebagai Creative Designer Trans TV (2000 – 2002) ini telah berhasil menjadi seorang animator sukses, mendirikan sekolah film Hellomotion, dan memprakarsai festival animasi HelloFest! yang setiap tahunnya meraup 10.000 penonton muda di seantero Indonesia.

Dewan Juri Pauline Burt (Wales Film Agency), Satwant Gill (Kepala Film British Council), dan Duncan Kenworthy (produser film Inggris terlaris) menilai, berhasil mengawinkan kreativitas, idealisme, dan bisnis di usia yang sangat muda. Bahkan Kenworthy pun kepincut. “Saya tertarik memodali proyek-proyeknya,” ujar produser film Four Weddings and a Funeral, Notting Hill, dan Love Actually itu.Kenworthy bahkan menambahkan bahwa sekolah animasi dan festival Aditya telah memberikan dampak yang nyata bagi perekonomian di sekitarnya, membuka lapangan kerja, serta memiliki potensi luar biasa untuk tumbuh sebagai komoditi ekspor.

Berikut adalah percakapan saya (N) dengan Aditya (W).

N: Bagaimana Anda bisa mendapatkan penghargaan tersebut?
W: Wah kayaknya jurinya lagi dapat ilham dari Tuhan. He he he. Jadi saya yang kebagian dapet gelar, karena menurut saya finalis yang lain juga top-top. Rahasianya ada di selera juri

N: Mereka mengatakan Anda berhasil mengawinkan kreativitas, idealisme, dan bisnis di usia yang sangat muda? Bisa menceritakan bagaimana Anda membangun Hellomotion dan memprakarsai HelloFest?
W: Hellomotion berdiri karena gelisah saja. He he he… Saya berpikir, pasti banyak orang yang seperti saya dulu, yang ingin berkarya tapi menghadapi kendala, antara lain harus kuliah lama, banyak pelajaran yg tidak diperlukan tapi musti dihadapi, persepsi bikin film itu susah, dan lain-lain. Jadi saya buatlah sekolah dengan kurikulum sesuai pengalaman saya di industri. Saya ingin animasi dan sinema itu menjadi karya seni, jadi siapapun bisa bikin, bukan barang eklusif, bukan untuk orang-orang tertentu saja. Kalo dulu kita sering dengar ada dokter hobi seni musik, kenapa tidak ada pengacara hobi bikin animasi atau bikin film?

N: Menarik. Animasi untuk semua orang, atau dalam jargon Orde Baru, “memasyarakatkan animasi, menganimasikan masyarakat”.
W: Hellofest berdiri karena kegelisahan juga. Pernah karya video klip saya ditolak karena kategorinya video klip bukan film pendek, padahal di video klip itu ada alur ceritanya. Ya sudah, saya bikin sendiri saja festivalnya, soalnya menurut saya sinema itu sudah berevolusi menjadi bermacam-macam jenis dan bisa dicampuradukkan; animasi campur dokumenter, film pendek campur video klip, campur-campurlah pokoknya.

N: Bagaimana Anda memulai Hellomotion? Dari mana modalnya? Apa saja yang Anda lakukan pertama kali?
W: Modal saya nekat. Pinjam tanah bapak saya sebagai jaminan bank. Jadi saya nyetor utang tiap bulan ke bapak saya. He he he.

N: Oh ya? Anda sungguh berani. Bagaimana hingga Anda memiliki keyakinan bisa mengembalikan pinjaman itu? Apakah Bapak Anda tak meminta jaminan apapun?
W: Yang saya lakukan pertama kali, ya begitulah, yakin dulu kalau saya bisa, habis itu saya membeli buku-buku manajemen dan marketing, yang kemudina menjadi sarapan saya tiap pagi, soalnya saya tidak punya latar belakang ilmu pemasaran. Jadinya yaa sambil nyemplung, minum air. Dan rasanya pahit! He he he. Mengenai bapak saya, mungkin beliau juga kena tipu muslihat saya..seperti halnya para juri di london hehehe…salah satu kunci sukses adalah bagaimana kita mempresentasikan konsep..walaupun konsepnya acak kadul. Kalau meyakinkan, terkadang orang terbuai juga loh. He he he. Bercanda. Sebenarnya bapak saya juga merasa yakin, karena saya sebelumnya sudah lama di industri animasi. Lima tahunanlah waktu itu, secara networking sudah lumayan. Jad di secara hitung-hitungan, untung ruginya masih reasonable.

N: Berapa lama Anda membangun bisnis Hellomotion?
W: Saya bangun sejak 8 april 2004. Prosesnya pakai jatuh-bangun, pingsan, nyungsep. He he he. Berdarah-darah lah pokoknya. Kalau semua pengusaha bisa langsung sukses, pasti semua orang ingin jadi pengusaha. He he he.

N: Bisa ceritakan sedikit kenyungsepan itu? He he he.
W: Yaa… pernah saya tidak digaji berbulan-bulan, karena operasionalnya kurang, tidur hanya 4 jam. Yang lain asyik membaca majalah gossip, saya malah melahap mentah-mentah buku marketing yang tebelnya minta ampun. Menghadapi staf 12 orang dan menghidupinya…wow rasanya ajaib; Menghadapi komplain customer, inovasi product, dan lain-lain, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan.

N: Bagaimana Anda pertama kali bersentuhan dengan animasi?
W: Semasa SMA. Bosan dengan komik yang menurut saya tidak hidup, saya pun mulai melirik animasi. Saya pun belajar membuat animasi yang tradisional. Mempergunakan buku pelajaran. biasanya di ujung kertas saya gambar animasi.

N: bagaimana menurut Anda prospek industri kreatif dan kontent di Indonesia? Atau mungkin kesiapan Indonesia terhadap prospek itu?
W: Kalau saya sih diliat dari jumlah konsumen indonesia aja sudah menggiurkan. Apalagi sifat orang Indonesia yg konsumtif habis. Jumlah pengguna handphone di Indonesia ada 40 juta lebih. Kayaknya kesempatan bagi kita untuk menyebarkan konten. Prospeknya positif kalo orang melihatnya positif

N: Secara potensi pasar sangat besar memang, tetapi potensi pasar yang besar saja tak cukup, bukan? Perlu kesiapan, sehingga tak terlibas persaingan.
W: Benar, ini adalah masalah siap dan tidak siap. Hanya saja kesempatan kita sudah sama dengan negara lain. Kita juga bisa ekspansi ke negara lain, salah satunya lewat internet. Mungkin kalau 2-3 tahun lagi internet sudah menyebar di Indonesia dan kecepatan aksesnya tinggi, lebih menarik lagi. Di London pun bisnis bioskop dan video juga makin lesu karena adanya internet.. Tapi dari internet juga muncul bisnis-bisnis baru yang lebih memasyarakat.

N: Dengan Jepang misalnya, yang memiliki sejarah panjang di industri ini apa yang bisa dilakukan untuk bersaing dengan mereka, paling tidak, menyamai mereka?
W: Menyamai mungkin butuh waktu, karena mereka sudah 50 tahun lebih berevolusi dalam hal animasi. Mereka sudah makan asam garam. Kita mulai start animasi sekitar tahun 90-an, jadi baru 15 tahunan. Hal yang penting adalah kita harus konsisten dalam memproduksi animasi secara kuantitas maupun kualitas, dengan dukungan pemerintah lebih baik.

N: Apa yang kira-kira harus ditingkatkan dan stake holder lainnya?
W: Yang perlu ditingkatkan adalah kemasannya dan rasa percaya diri, kualitasnya juga musti bagus. Namun hal pertama yang musti dilakukan adalah menyadarkan para calon-calon investor, bahwa animasi itu sangat menguntungkan. Ini juga berlaku bagi pemerintah. Di Inggris juga ada perusahaan animasi yang diberi dana oleh pemerintah utk berkembang. Animasi bisa membawa dampak besar bagi ekonomi maupun budaya. Kita bisa memperkenalkan Indonesia melalui animasi. Contoh yang bisa saya berikan adalah London Film Agency. Mereka tugasnya memfasilitasi kebutuhan produser utk tempat-tempat syuting film di london. Ada 10 000 lokasi yg dimiliki dan semua bisa dilihat dengan gratis..melalui foto yang disediakan di website mereka. Mereka juga memberi konseling gratis. Intinya mereka ingin mempromosikan London. Semua itu tentu harus dilakukan dengan manajemen yang bagus, rapi, sesuatu yang belum kita punyai.

###

Advertisements

About this entry