“Saya Bukan Bintang, tapi Aktor”

Oleh Nuruddin Asyhadie

SoekarnomnoerApakah yang bergemerincing dalam kepala, ketika mendengar nama Sukarno M. Noor?

Bagi sutradara film dan teater, N. Riantiarno, ia adalah aktor yang wajahnya kurang tampan, namun pemain watak yang kuat, seorang bintang yang bercahaya gemilang dalam dunia film Indonesia, aktor besar yang penuh dedikasi, disiplin dan tekun, dan hidup dari film.

Di susuk bilik ingatan Slamet Rahardjo Djarot, pewaris Teater Populer, memantul bayangan Bang Karno yang dengan tangan kiri terlipat memegang dada dan tangan kanan bergerak lincah, mendekat dan menjauh ke wajahnya, memberi nasihat. Sebuah pertunjukan nyata yang tak pernah dapat dicapai oleh diri Slamet sendiri, yang hanya bisa berubah dari seekor katak pemalu menjadi pangeran mempesona oleh kesaktian kata-kata dalam naskah.

Misbach Yusa Biran, Wak Haji yang pernah rondevouz bersama Soekarno dan seniman lain di ‘Kerajaan Senen’ pada malam-malam gaib ‘kopi kecil’ setengah rupiah, di gendang telinganya menemukan kembali gaung pernyataan  “Aku adalah aktor, bukan bintang”, yang pernah diproklamirkan Sukarno M. Noor di tahun 50-an, terinspirasi ucapan aktor besar Marlon Brando. Gaung itu berat merambat, bukan karena udara yang padat, namun suara itu tak berhenti sebuah suara, ia mewujud dalam tegang-regang otot, garis wajah, dan surut-tajam sorot mata Soekarno di panggung teater atau di depan kamera film.

Paling tidak, itulah yang bisa dikucupi dari endorsement di sampul belakang buku Jejak Seorang Aktor Sukarno M. Noor yang disusun oleh S.M. Ardan dan diterbitkan oleh Aksara Karunia pada tahun 2004.

Walau tak bisa disebut sebagai karya biografi yang baik, sebab terlalu banyak hal eksternal yang ingin disampaikan, dan justru melewatkan detil-detil kehidupan objek material, namun buku ini cukup inspiratif bagi para aktor maupun calon aktor yang ingin menjadi pemain film yang baik.

Sukarno M. Noor lahir di Rawabangke, Jakarta, pada 13 September 1931 dari pasangan Mohammad Noer dan Janimah. Meski berdarah Minang, namun sang ayah memberi nama Sukarno, nama khas Jawa, karena ingin sang anak konsekuen dalam perjuangan sebagaimana Bung Karno.

Pada usia dua tahun, Sukarno telah menjadi anak yatim. Oleh sang ibu, ia dan Ismed Ismed, adik Sukarno yang masih bayi, dibawa mudik ke kampung halaman di Bonjol, Sumatra Barat, kemudian pindah ke Tebing Tinggi. Kehidupan pahit dan getir ditelan oleh Sukarnoa. Saat masih di Bonjol, ia setiap hari musti berjalan pulang-pergi dari Bonjol-Lubuksikaping untuk berjualan sabun dan cabe rawit. Di Tebing Tinggi, Sukarno  berjualan teh di stasiun di Deli agar bisa mendapat uang untuk membantu sang ibu.

Sukarno dibawa oleh pamannya ke Pematang Siantar waktu ia duduk di bangku SMP. Di kota inilah yag berkenalan dengan dunia sandiwara, dan jatuh cinta pada seni pemeranan. Ia juga keranjingan menonton film di bioskop. Sehari pun ia tak pernah absen. Tentu dengan akal-akalan, sebab tak ada cukup uang di kantong. Ia menyambung kembali sobekan karcis. Kala itu karcis belum memakai nomer kursi, jadi ia tak pernah tertangkap.

Tahun 1950, keluarga Sukarno kembali ke Jakarta, setelah ia mendesak sang ibu. Sukarno bertekad menjadi pemain film. Ternyata hal itu tak semudah yang dibayangkannya. Meskipun ia telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan, mengisi formulir dan meninggalkan foto-foto dalam berbagai macam pose dan ukuran, namun tak satupun perusahaan film yang memanggilnya.

Melihat segala perjuangan dan pengorbanannya, sang ibu pun menitikan air mata. Beliau menasehati Sukarno agar menyerah saja, dan menjadi pegawai yang baik, agar menyadari bahwa orang berwajah seperti dirinya tak mungkin menjadi pemain atau bintang film.

Bukan hanya sang ibu yang merasa pesimis dengan cita-cita Sukarno, banyak orang yang menyindir dan mengejek, “Mau jadi bintang film, seperti tidak percaya sama kaca saja,” namun semua itu diterimanya dengan lapang dada, meski pedih rasanya. Sukarno meyakini bahwa film-film Indonesia tak mungkin meneruskan kedustaan dan kebenciaannya memproduksi film yang berkepribadian Indonesa, yang jujur, artinya keindahan, keburukan, dan kejelakan yang ada dalam masyarakat tak bisa terus menerus digambarkan sebaliknya. Jika saat itu tiba, maka pasti ada tempat baginya untuk menjadi pemain film.

Tahun 1953 ia terlibat dalam sandiwara Runtuhan yang ditulis dan disutradarai sendiri oleh A.U. Muscar. Dalam drama itu ia menjadi pemeran utama berpasangan dengan aktris kawakan R.Ng. Djoewariah. Permainan Sukarno mendapat perhatian penonton dan disambut baik oleh kritikus, terutama Rd. Lingga Wisjnu M.S, sehingga memantapkan cita-citanya sebagai aktor.

Meratjun Sukma (1953) merupakan pintu pertama bagi Sukarno memasuki dunia film, meski ia hanya numpang lewat sebagai figuran dan mendapat bayaran Rp, 24, 25 setelah dipotong pajak tiga persen. ‘Bintang dua puluh empat setalen’ demikianlah sebutan waktu itu untuk para figuran. Sukarno M. Noor menjalani kehidupan tersebut selama 1953 hingga pertengahan 195. Untuk peran pertamanya di Meratjun Sukma itu, ia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai negeri di Kantor Pos Pasar Baru, Jakarta, padahal ia akan dikirim ke Bandung untuk mengikuti pendidikan, yang dapat menaikan posisinya.

Setelah main bagus sekali dalam sandiwara Kehancuran (1954), Sukarno ditarik produser Garuda Films untuk menjadi pemeran utama dalam Gambang Semarang (1955). Bayarannya Rp. 25.000, seribu kali lipat dari honornya sebagai figuran. kontrak Sukarno Garuda Films kemudian memperpanjang kontrak Sukarno selama dua tahun untuk bermain dalam delapan produksi.

Berturut-turut ia pun main sebagai pemeran utama, maupun tambahan dalam film Puteri Revolusi (1955), Tjorak Dunia (1955), Sampai Berdjumpa Pula (1955), Sri Kustinah (1955), dan Daerah Hilang (1956). Para penulis resensi dan kritikus mulai menjuluki Sukarno sebagai pemain watak, istilah lain untuk pemain baik yang tak hanya bermodal tampang.  Dan memang menjadi pemain yang baik itulah cita-citanya.

Walau sudah dikenal sebagai pemain sandiwara dan film, saat Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) berdiri tahun 1956, Sukarno mendaftar sebagai siswa angkatan pertama. Ia merasa dirinya harus memperkaya diri, bakat alam saja tidaklah cukup, harus ditambah dengan pengetahuan teoritis dan teknik. Kesadaran untuk belajar dan berkembang itu, sesungguhnya telah terpatri semenjak ia masih di Sumatra. Sukarno remaja, pernah mengirim surat kepada Rendra karno untuk meminta petunjuk bagaimana bisa main film.

Gemblengan di ATNI menanamkan dirinya akan kemutlakan disiplin sebagai seorang aktor, kolektivisme dalam dunia teater dan film, serta bagaimana seharusnya melakukan persiapan-persiapan menghadapi kerjanya sebagai aktor.

Pengetahuan yang sedikit itu dihayati dan dipraktekannya benar. Sebuah komentar dari Bustal Nawawi, produser pelaksana film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), yang juga dibintangi Sukarno: “Yang paling mengagumkan dari almarhum adalah kesiapannya untuk main. Begitu masuk set, seluruh dialog dalam skenario telah dihafalkannya. Belum ada pemain seperti dia. Lebih dari itu, sampai karakter tokoh yang diperankannya pun dibuatkan grafik.”

Pada festival film Indonesia (tidak jelas namanya) 1960, lewat permainannya dalam Anakku Sajang (1957), Sukarno M. Noor dinobatkan sebagai The Best Actor , untuk pertama kalinya. Pada Pekan Apresiasi Film Nasional 1967, Sukarno kembali menggondol The Best Actor untuk aksinya di film Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1966 ) dan Menjusuri Djejak Berdarah (1967). Pada pemilihan Best Actor/Actress PWI 1972-1973, akting Sukarno dalam Lingkaran Setan hanya terpilih sebagai runner up, namun pada dua pemilihan selanjutnya, yaitu 1973-1974 dan 1974-1975, Sukarno menyabet Best Actor untuk permainannya dalam Jembatan Merah (1973) dan Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974).

Sukarno menyabet piala “Citra” FFI 1979, lewat film Kemelut Hidup (1977), piala “Citra” pertamanya semenjak FFI pertama kali diadakan pada tahun 1973.  “Sampai juga, Dan!” katanya pada SM. Ardan yang berada satu bus ketika kembali ke hotel setelah malam penganugrahan di stadion Sriwijaya, Palembang. Ia memang telah lama merindukan piala itu. Walau ia masih merasa belum puas dengan permainan-permainannya selama ini, namun tampak benar kegembiraannya, kegembiraan mendapatkan pengakuan akan kerja kerasnya di dunia film. “Prestasi seorang aktor itu tak dapat dijamin dengan adanya mobil Mercy Tiger,” demikianlah pernyataannya yang dikutip dalam Radar Minggu edisi 17 Mei 1979.

Jerih payah Sukarno M. Noor dalam dunia perfilman Indonesia boleh dikatakan kurang setimpal dengan hasil materi yang diperoleh. Aktris Rima Melati pernah berkata, “Sukarno memiliki daya juang yang luar biasa, dan ingin mengabdikan dirinya pada dunia film Indonesa. Sayang, dunia film kurang ramah padanya.”

Sukarno M. Noor memang seorang idealis. Banyak sekali cita-citanya untuk memperbaiki perfilman Indoensia, tapi banyak pula yang tak terwujud. “Seekor rajawali yang menganggap diri kuat dan pantang menyerah” lukis Wim Umboh.

Seusai revolusi fisik pada tahun 1951,  kondisi pemain kurang beruntung, sementara produser menikmati keuntungan yang besar. Sukarno M. Noor merasa prihatin atas nasib artis film secara umum, khususnya pemain baru seperti dirinya. Dalam majalah Kentjana edisi 15 Desember 1954, ia mempersoalkan honorarium yang kecil bagi pendatang baru, paling tinggi sekitar Rp. 7.000,00-8.000,00. Bagaimana kalau Cuma main sekali dalam setahun? Apalagi jika peran yang didapat lebih kecil, yang artinya lebih sedikit yang diterima, sekitar Rp. 4.000,00? Para produser bersikukuh dengan standar honor tersebut. Sukarno pun mulai memikirkan perlunya dibentuk persatuan artis.

Pada 10 Maret 1956 dibentuk Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI). Sukarno yang waktu itu masih baru sekali berperan sebagai pemain utama (Gambang Semarang, 1955), belum masuk dalam bursa pengurus. Baru pada kongres PARFI pada tanggal 20-22 Desember 1971, ia terpilih sebagai Ketua I untuk periode 1972-1974. Dalam kepengurusan ini pun Sukarno belum bisa banyak berbuat, namun ia tak henti berbicara mengenai peningkatan honor dan kemampuan anggota.

“Pengetahuan dasar tentang akting itu sangat tipis di lingkungan pemain-pemain film muda,” katanya, “kalau hanya mengandalkan bakat alam saja, suat saat pemain itu pasti akan kekeringan dan bermain tunggal-nada, stereotypis, tidak ada variasi dan kekayaan warna.” Sayangnya para anggota PARFI masa itu tampak enggan mematangkan diri mereka.

Kongres PARFI 17 Desember 1977 memilih Sukarno M. Noor sebagai Ketua Umum periode 1978-1980. Pada masa inilah dibentuk Biro Organisasi yang membawahi bagian pendidikan dan Sanggar Citra Utama sebagai bengkel dan sarana untuk latihan.

Kursus pemeranan pun mulai digelar, dari mulai pelajaran seni peran, analisa skenario, penguasaan filmis, sampai pemutaran film yang diserta diskusi oleh sutradara dan salah seorang pemain dari film bersangkutan.

Sukarno berkonsentrasi penuh mengelola PARFI. Masa-masa itu ia hanya menerima peran tambahan atau bintang tamu. Tugas-tugasnya sebagai pengurus Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) juga terbelengkalai. Untungnya, rekan-rekannya di DKJ memakluminya.

Atas seluruh sumbangsihnya pada dunia perfilman Indonesia, pada FFI 1985, Sukarno dianugerahi penghargaan “Surjo Soemanto” dari Dewan Film Nasional.

26 Juli 1986, di hadapan istri dan anak-anaknya, Sukarno M. Noor menghembuskan nafas terakhir, dengan mengenakan kaos Selamat Tinggal Duka, film pertama yang disutradarainya, dengan Rano Karno, Tino Karno, dan Yessy Gusman sebagai pemain utamanya.

The bad boy of screen itu telah mewariskan arti tanggung jawab, kerja keras, pengabdian sebagai seorang aktor, namun  “utang” satu adegan pada sebuah film yang belum rampung, berjudul Seuntai Manikam produksi TVRI dan PARFI untuk menyambut HUT RI ke 41, seakan sebuah kalimat lain dari larik sajak Chairil, “Kerja belum selesai, belum apa-apa.” Sebuah wasiat bagi seluruh insan film Indonesa.

###

Advertisements

About this entry