Pasar Seni Ancol, Mimpi yang Terlupakan

Oleh Nuruddin Asyhadie

PSA1978, Hendra Gunawan, pelukis yang merupakan salah satu ikon seni rupa modern Indonesia, terpaku di sebuah kios kosong depan warung Aries, Pasar Seni Ancol (PSA), tempat para seniman Ancol biasa nongkrong dan minum kopi. Ia baru saja keluar dari penjara, ketika pelukis Soedarso bersama anaknya, Sudaryono, mengajaknya datang ke tempat ini. Betapa ia tak dapat mempercayai apa yang tengah dilihatnya. Sebuah perkampungan tempat para seniman dapat berkumpul dan berkarya. Sesuatu yang pada masanya hanya menjadi mimpi di siang bolong. Tanpa bisa ditahan, air matanya menitik, tubuhnya bergetar oleh rasa haru yang datang tak alang kepalang.

PSA adalah mimpi. Didirikan pada 28 Februari 1978, dengan meniru konsep Art Fair ITB. Dibangun secara permanen di area seluas 5 hektar, tempat ia kini berada dengan fasilitas 114 studio, sebuah teater arena, dan galeri, selama satu dekade PSA telah menjadi pusat orientasi kegiatan seni budaya di Indonesia. Berbagai karya dan nama besar lahir di PSA, sebut saja Anggun C. Sasmi, Bagito Group, G.M. Sudarta, Indro Sungkowo, I.B. Said, Amrus, dan lain sebagainya. Kepopuleran PSA membuat para pejabat, selebritis, tamu negara, pengamat, kritikus, dan seniman-seniman besar dari berbagai negara tergoda untuk berkunjung ke sana. Eksistensi PSA pada saat itu membuat Ali Sadikin sempat merasa khawatir. Dalam biografi beliau yang ditulis oleh Ramadhan K.H., Bang Ali berpesan kepada Ciputra, agar PSA jangan menjadi saingan Taman Ismail Marzuki (TIM), masing-masing harus mempunyai misinya yang berlainan.

Tetapi seperti mimpi-mimpi lain, pada saatnya ia akan berkhianat. Bersamaan dengan boom lukisan pada tahun 80-an, yang diikuti menjamurnya galeri-galeri, pameran dan lelang lukisan, PSA malah mengalami anti klimaks. Kehangatan, keramaian, dan ketenaran PSA seakan menguap ke udara.

Dalam sebuah laporan jurnalistik berjudul Tempat itu Sudah Kehilangan Atmosfer Kreativitasnya, Jim Supangkat berkata: “Saat ini menejemen dan seniman PSA tak lagi memiliki suara dan jika publik ramai-ramai membicarakan seni rupa terkini ataupun terdahulu, PSA tak terlintas di benak mereka.” (MI/12/04/2003).

Sungguh sebuah kenyataan yang sangat ironis, sebab dalam banyak hal, PSA justru dapat dipandang sebagai representasi utama dari wacana seni rupa mutakhir. Ketika berbicara tentang hancurnya sekat-sekat tradisional antara seni dan bukan seni, seni dan craft, serta seni dan pasar, yang merupakan isu-isu seni rupa hari ini, tidakkah nama pertama yang harus disebut adalah PSA?

PSA-lah yang mula pertama secara terang-terangan memproklamirkan seni yang berorientasi pasar ketika kebanyakan seniman Indonesia memperlakukan seni sebagai barang yang suci, yang harus dijauhkan dari komodifikasi. Dan ketika orang berbicara mengenai visual art, di manakah tempat barang-barang seni seperti lukisan, patung, grafis, disajikan bersama-sama dengan benda-benda kerajinan seperti keramik, tas, kalung, dan sebagainya? Tidakkah orang-orang seperti Jim Supangkat, Agus Dermawan T, Bambang Bujono, Nirwan Dewanto, Dwi Marianto, Aminuddin T.H. Siregar, Merwan Yusuf atau generasi yang lebih muda Adi Wicaksono, Agung Hujatnikajenong, Mikke Susanto, dan lain-lainnya yang menamakan diri mereka sebagai pengamat atau kritikus seni rupa seharusnya mencatat bahwa konsep art on the spot yang menjadi trade mark PSA merupakan momen bagi gerakan anti galeri?

Pengalpaan ini mengingatkan kita pada Sang Clementis dalam novel The Book of Laughter and Forgetting karya pengarang eksil Ceko ternama, Milan Kundera. Clementis adalah salah seorang tokoh penting dalam sejarah Ceko Komunis. Dialah sosok yang berdiri di samping dan menanggalkan topi bulu miliknya untuk dikenakan ke kepala Gottwald, ketika Pemimpin Komunis Klement itu menyampaikan pidatonya di hadapan ratusan ribu orang yang memadati Old Town Square pada bulan Pebruari 1948. Namun empat tahun kemudian Clementis dituduh melakukan pengkhianatan dan dihukum gantung. Seksi propaganda dengan segera menghapus namanya dari sejarah, dan tentu saja dari semua foto mengenai adegan tersebut. Foto-foto itu kini hanya menyisahkan Gottwald yang berdiri sendirian. Tempat di mana Clementis dan kawan-kawan lain berada, tak lebih dinding istana yang kosong. Jejak yang tersisa dari Clementis hanyalah topi yang nangkring di kepala Gottwald.

Bagaimanakah hingga PSA, dapat terhapus dari ruang ingatan publik Seni Rupa Indonesia?

Sangat menarik memperhatikan asumsi yang telah dilontarkan oleh Agus Dermawan T dan Jim Supangkat mengenai kondisi PSA ini dalam laporan yang sama: “Pasar Seni Ancol (PSA) saat ini sedang surut dari atmosfer kreativitas.”

Apakah yang dimaksud dengan hilangnya kreativitas di PSA? Apakah itu berarti bahwa para seniman PSA telah berhenti berkarya dan membuang perkakas mereka?

Dengan melakukan otopsi terhadap aspek-aspek tak sadar dari pernyataan ini, kita akan mendapatkan bahwa kata “kreativitas” di dalamnya berkondensasi dengan konsep “seni ekspresif”: seniman yang tak sekedar sibuk memproduksi benda-benda kerajinan, tetapi juga jenius yang karyanya mengekspresikan sensibilitas mereka yang superior.

Kondensasi ini akan tampak lebih jelas apabila kita juga menggarisbawahi tuntutan Agus Dermawan agar PSA membuat sebuah museum yang menampilkan pencapaian-pencapaian para seniman PSA.

Saya tidak mengatakan bahwa ide pembangunan museum itu adalah ide yang buruk, namun yang lebih penting bagi kita adalah membongkar ‘kesadaran-kesadaran’ apa yang bergerak di dalamnya, karena dengan demikian kita akan dapat mengetahui pokok sebab mengapa PSA menjadi unthoughable.

Ada semacam leavisisme dalam asumsi Agus dan Jim, yaitu suatu pandangan di mana kebudayaan didefinisikan sebagai “the best that has been thougt and said in the world”.

Bersama definisi ini sadar maupun tidak, keduanya berusaha menentukan dan mempertahankan karya-karya terbaik, kanon dari karya-karya yang baik, dan mengeksklusi budaya massa dengan segenap distraksi dan adiksinya.

Itulah sebabnya maka kinerja yang ditunjukan oleh para seniman PSA saat ini menjadi tersilapkan. Menjadi sebuah kemahfuman mengidentikan PSA dengan karya-karya komersial yang diperuntukan bagi selera umum atau publik, dan memandang seniman PSA sebagai seorang budak dari keplinplanan selera publik.

###

Advertisements

About this entry