Manusia Berpikir, Tuhan Tertawa

Oleh Nuruddin Asyhadie

God LaughDalam pidato penerimaan hadiah sastra Internasional dari Israel, Milan Kundera mengutip sebuah pepatah Yahudi yang sangat bagus: “Manusia berpikir, Tuhan tertawa.” Mengapa Tuhan tertawa di saat manusia berpikir? Sebab, ketika manusia berpikir, kebenaran menghapus dirinya. Sebab, semakin manusia berpikir, semakin pikiran seseorang terpisah dari lainnya.

Itulah yang tampak pada tiga artikel yang masing-masing berjudul Apa Kata Hati Saja Quo Vadis Kritik Sastra Indonesia? Saut Situmorang; Kata Karya Sastra: “Jangan Jadikan Aku Kering Meranggas!” Pandu Abdurrachman; dan Sikap Apriori terhadap Kritik Sastra Maman S Mahayana, yang telah dimuat oleh harian ini secara berturut-turut.

Sekilas ketiga artikel tersebut sepertinya sedang berdialog, bertukar tangkap dalam sebuah ruang tamu yang riang dan hangat, namun apabila dibaca kembali secara lebih teliti, ternyata masing-masing sedang memainkan monolognya sendiri.

Saut merindukan kritik sastra yang serius dan berkualitas, sebagaimana yang dituntutkan kepada sastra Indonesia, bukan sekadar komentar-komentar. Pandu Abdurrachman, melakukan sebuah orasi mengenai sikap-sikap didaktik, kebutaan Saut melihat persoalan-persoalan di dalam dirinya sendiri, yaitu sastra Indonesia, dan betapa sehatnya kritik sastra Indonesia. Sementara Maman menerangjelaskan bahwa kritik amat diperlukan dan berguna bagi sastra, dan bahwa gugatan akan krisis kritik sastra merupakan sikap apriori terhadap kritik sastra. Bukankah semua itu adalah hal yang berbeda?

Kritik sastra (Indonesia): krisis atau tidak?

Pertanyaan ini sengaja diajukan kembali, untuk mengingatkan rel dari polemik yang telah disulut oleh Saut Situmorang. Krisis atau tidakkah dunia kritik sastra kini, khususnya kritik sastra Indonesia? Hal itu patutlah dipikirkan secara lebih masak.

Dengan menyebutkan literatur-literatur kritik sastra yang ada di dunia Barat, Maman seakan ingin membuktikan bahwa secara umum kehidupan kritik sastra tidak mengalamai suatu gangguan. Terjadinya simpang siur kritik sastra dunia di tahun 70-an, justru merupakan kekayaan dan kekuatan dari provinsi tersebut.

Namun, pengajar Fakultas Sastra UI itu agaknya alpa menyebutkan referensi-referensi seperti The Crisis of Contemporary Criticism (1967) karya Paul de Man dan Criticism in Crisis (1954) tulisan Harry Levin, atau introduksi Peter Collier dan Helga Geyer Ryan, Editor Literary Theory Today dalam terbitan mereka yang secara terang-terangan menyatakan: “Semua menyadari adanya krisis di dalam teori sastra dan kebudayaan.” (1990: 2).

Dari tahun 1985 hingga 1990 bermunculan buku-buku seperti The End of Literary Theory, The States of Theory, The Limits of Theory, dan Against Theory. Bahkan pada tahun 1990, di Wayne State University, Amerika diadakan sebuah konferensi mengenai “The Ends of Theory” yang mengacu pada masa itu, teori oleh banyak pihak telah dinyatakan berakhir.

Teori telah dipandang sebagai alat dominasi, bukan hanya terhadap alam, tetapi juga minoritas, kelas-kelas sosial. Dengan mengutip pendapat-pendapat Gadamer, Bacon, Horkheimer, Adorno, dan Foucault, mereka melakukan pengejaran dan pembakaran hidup-hidup terhadap teori, sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang puritan terhadap nenek-nenek sihir di masa warlock hunt.

Keberakhiran atau kematian teori tersebut berimplikasi secara langsung terhadap dunia kritik. Adalah sulit membayangkan keduanya sebagai hal yang terpisah. Apabila teori merupakan sekumpulan nilai-nilai, maka kritik ialah praksis dari nilai-nilai tersebut.

Berkaitan dengan pernyataan Maman bahwa isu krisis sastra adalah tidak berdasar dan lahir dari sikap apriori dan pipih, alih-alih ia memproklamasikan bahwa kritik atau teori (sastra) adalah sesuatu yang innocent, dan mereduksi kritik sebagai sebuah penilaian, konvensi yang akan menjadi sebuah karya sastra sebagai monumen, fakta akan perdebatan itu justru membuktikan kenyataan yang berlawanan.

Apakah Maman lupa, bahwa sebuah teori atau kritik menyimpan kuasa-kuasa tertentu? Mungkinkah teori atau kritik terlepas dari, misalnya, perspektif atau paradigmanya? Bukankah perspektif atau paradigma tersebut justru menunjukkan bahwa sebuah kritik atau teori berdiri pada ideologi tertentu, yang memberikan kepadanya hak-hak untuk menjustifikasi apakah sebuah karya adalah monumen atau sampah yang patut dilemparkan ke dalam lubang hitam? Lalu di manakah letak innocence kritik, sebagaimana yang digadangkannya?

Di lain pihak dengan melihat krisis global kritik sastra, kerinduan Saut adalah irelevan, jika tak mau dibilang kuno! Namun, bukan berarti bahwa dengan demikian gugatan tersebut otomatis selesai. Krisis kritik sastra Indonesia, sebenarnyalah bukan hal baru. Dan justru karena gugatan itu klise, berulang kali, namun tetap tak terjawab, keinginan Saut, yang mewakili sastra Indonesia untuk berdialog dengan sparing partner-nya itu, layak menjadi momen bagi kebangkitan kritik sastra Indonesia.

Institusi kritik sastra Indonesia mestinya melakukan introspeksi: apakah invalidnya institusi kritik sastra Indonesia, sebagaimana yang ditudingkan oleh Saut, disebabkan oleh kesadaran-kesadaran akan keberakhiran teori yang sama, atau memang tidak adanya kritik sastra serius di negeri ini? Cukupkah menunjuk kuantitas makalah penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi sebagai bukti tidak adanya krisis kritik sastra? Bukankah itu terlalu materialistik, sedang sastra dan ilmu sastra lebih bersifat kualitatif?

Setiap tahun lahir ribuan sarjana, ratusan master, dan puluhan Doktor Sastra, namun pernahkah muncul sebuah karya puncak kritik sastra Indonesia, pernahkah dunia sastra akademis yang melahirkan seabrek karya tulis itu melahirkan nama-nama yang sejajar dengan Derrida, Rorty, Barthes, Kristeva, de Man? Cukupkah kita dengan Faruk, Bakdi, Korie, Maman, Kris, Adi? Pandu Abdurrachman Hamzah terlalu cepat berpuas diri dalam hal ini.

Bukan bermaksud merendahkan orang-orang “terhormat” itu, tapi kesemua mereka belum pernah menghasilkan studi yang serius, pikiran-pikiran yang cemerlang, bukan hanya pembacaan yang common sense, meski diartikulasikan secara, meminjam istilah pandu, “akrobatik”.

Sebagai perbandingan: dalam The Art of Novel, Milan Kundera menyajikan sebuah pembacaan terhadap sejarah Sastra Eropa, dan dengan pembacaannya itu ia berhasil menunjukkan bukti-bukti adanya narasi kegilaan yang diwakili oleh Don Quixote karya Cervantes di zaman Rene Descartes, zaman yang diklaim sebagai era egologik dan rasional.

Dari studi itu, Kundera menciptakan konsep-konsep baru akan novel, sastra pop, dan sebagainya, sampai-sampai di akhir buku, ia memberi bab khusus tentang kamus 63 kata yang didefinisikannya sendiri. Ketika membaca novel-novelnya pun, segera dapat ditemukan jika novel-novel itu disusun berdasarkan pengetahuan akan kesejarahan dan kritik sastra yang mendalam.

Pernahkah kritikus kita mempertanyakan mengapa hampir kebanyakan cerpen-cerpen atau novel Indonesia adalah cerpen dan novel suasana atau peristiwa? Apakah itu berarti bahwa manusia dalam kesadaran kita bukanlah sesuatu yang penting, misalnya, atau bahwa semua itu, gaya itu menyimpan sebuah ketakjuban bawah sadar akan waktu. Dan, ketika mereka menulis dan menerbitkannya, kritikus lainnya akan membaca dan memeriksanya, seorang sastrawan akan bekerja keras untuk kemudian menciptakan karya yang mengangkangi waktu, dan oleh prestasinya itu ia tentu tercatat dalam sejarah Sastra Indonesia atau bahkan sastra dunia. Pernahkah?

Komentar sebagai post-“kritik”

Hal lain yang problematis dari “kata hati” Saut adalah komentar. Baginya komentar adalah barang nomor dua, sebab komentar menyajikan tulisan yang emosional, subyektif, dan tidak ketat sehingga dengan begitu menjadi tidak serius dan sekenanya. Celakanya, komentar tersebut justru berfungsi dan diperlakukan sebagai kritik yang melakukan judgement terhadap sebuah karya sastra.

Bahwa komentar adalah emosional, subyektif, dan tidak ketat adalah benar. Namun, untuk mengecapnya sebagai barang nomor dua, tidak serius dan sekenanya, nanti dulu.

Tulisan-tulisan Roland Barthes dalam Mythologies adalah sebuah komentar, demikian juga analisis-analisis Derrida mengenai karya-karya Jean Genet, Virginia Woolf, Delacroix, Balzac. Flaubert, Valery, Proust ditulis di bawah palang komentar.

Dipilihnya bentuk ini dalam wacana “kritik” sastra dunia dilandasi oleh penolakan terhadap Enlightenment thought, dan modernitas sendiri di mana kritik termasuk di dalamnya.

Sistem dari operasi kritik adalah penilaian (judgement system), inklusi/ekslusi. Operasi ini, yang dasar-dasarnya diletakkan oleh Aristoteles sebagai anggota the Gang of Three, mengandaikan penyusunan situasi baku, sebuah penetapan atau pemeriaan tertentu, dan dengan demikian tak pernah dirancang untuk perubahan. Sebuah kritik adalah sistem yang memandang ke belakang, dan hanya memikirkan apa yang ada, definitif, dan hadir, what-is, being as presence. Ekonomi sistem ini bersifat kapitalis, mengambil keuntungan dari kerugian yang lain (the other).

Melalui komentar mereka bermaksud melepaskan diri dari tindak korupsi yang dilakukan oleh teori, dari apa yang disebut oleh Gadamer the will to domination dan masuk ke dalam kategori komunikasi Marx muda yang tak mengandaikan relasi subyek-obyek, ordinat-sub ordinat, yang merupakan ciri dari kategori kerja, kategori yang oleh Marx muda dimaksudkan untuk menggambarkan hubungan manusia dengan alam.

Dalam usaha itu, gerakan yang dilandasi oleh kesadaran bahwa sejarah manusia telah menciptakan dunia yang totaliter, di mana teori dan kritik sebagai praksisnya mereproduksinya secara terus-menerus, strukturalisme dipandang dapat menjadi paradigma bagi segala sesuatu yang sedang mereka lawan. Itu semua karena strukturalisme memunculkan disiplin semiotik dalam studi sastra yang akan menghalau kabut spiritualitas estetika dan pada saat yang sama menyelamatkan sastra dari reduksionisme-reduksionisme positivistik dari psikologi, sosiologi, politik, dan sejarah.

Sebagai sarjana sastra Inggris, saya pikir Saut tak asing dengan wacana ini. Namun, barangkali inilah repotnya menjadi penduduk dunia ke tiga. Belum sempat kita mengunyah satu makanan, sajian lain telah dicekokan. Sementara ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang fashionable yang setiap detik setiap menit berubah dalam suatu kecepatan yang tak lagi 1.000 km/jam seperti kata Chairil, tetapi 10.000 km/jam, 100.000 km/jam, 1.000.000 km/jam.

Demikianlah. Dan inilah saat bagi saya untuk berhenti. Agaknya, saya pun telah melupakan jika Tuhan tertawa ketika Ia melihat saya berpikir.

###

Advertisements

About this entry