“Masyarakat Kita Belum Mampu Hidup dalam Kebebasan”

Oleh Nuruddin Asyhadie

GarinSalah satu kafe tenda Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, setelah bubaran pembukaan JIFEST 2005. Kafe telah tutup. Hampir semua kursi-meja telah disusun dan lampu telah dimatikan. Ditemani sutradara Enison Sinaro dan Husni, istri saya, saya mewawancarai bung Garin tentang film Requiem for Java atau Opera Jawa yang tengah diproduksinya dan mendapat kecaman dari World Hindu Youth Organization (WHYO) karena dianggap telah mengaburkan ajaran Hindu untuk majalah film F. Kami duduk di salah satu meja yang masih tergelar, larut dalam perbincangan yang terbuka dan jawaban-jawaban sang Grand Auteur yang sungguh inspiratif.

N: Bagaimana Anda dapat turut serta dalam peringatan 250 Tahun Mozart?

G: Bermula dari perjumpaan saya dengan Peter Sellars, sutradara opera, yang kapasitasnya kira-kira sama dengan Peter Brook, dalam sebuah acara diskusi di Belanda, saya diminta mengirimkan film-film saya. Setelah itu ia mengundang saya untuk turut serta dalam acara ini. Selain saya, yang diundang adalah Tsai Mi Liang (Taiwan), Apicahtpong Weerasethakul (Thailand), Mohammad Saleh Haroun (Afrika), Bahman Ghobadi (Iran), dan Paz Encina (Paraguay). Kami semua diminta membuat film berdasarkan tema karya-karya terkahir Mozart: The Magic Flute, La Clamenza, dan Requiem. Saya memilih yang terakhir.


N: Apa yang dilihat Peter Sellars dalam film-film Anda, sehingga ia kemudian mengundang Anda?

G: Sebagaimana yang Sellars katakan, ia melihat film-film saya selalu berusaha menemukan sesuatu. Baginya itu sangat berharga. Penglihatan Sellars sangat tepat, saya memang lebih menghargai penemuan daripada kesempurnaan.


N: Apakah yang Anda maksud penemuan di sana? Estetik atau tematik?

G: Keduanya.


N: Apakah yang Anda coba temukan atau eksplorasi dalam Requiem from Java?

G: Kolaborasi seniman-seniman besar, koreografi gamelan, penyatuan bentuk drama dan dokumenter atau yang dikenal sebagai neorealisme, serta ekstrimitas globalisasi yang membawa pada monopoli, kekerasan, fanatisme.


N: Mengapa hal itu menarik Anda?

G: Sesungguhnya ini merupakan kejelian melihat gagasan. Tema dari peringatan 250 Tahun Mozart ini adalah rekonsiliasi, requiem, dan remembrance. Dengan film ini saya ingin berbicara mengenai perdamaian, kasih, non kekerasan, dan anti ekstrimitas yang menjadi dasar bagi dialog antar agama, sembari mengkritisi kondisi dialog sosial budaya dan agama di Indonesia dalam lima tahun terakhir dan prediksi lima tahun ke depan, yaitu munculnya kekerasan fisik dan simbolik, serta lahirnya tirani minoritas dan tirani mayoritas.

N: Lima tahun ke depan?

G: Ya, lima tahun ke depan isu-isu tersebut akan tetap aktual, malah semakin besar.

N: Apakah Anda selalu membuat prediksi-prediksi seperti itu?

G: Saya selalu memperhitungkan hal-hal seperti itu. Sebelum semua orang bicara tentang Aceh, saya telah membuat film tentang Aceh (Puisi Tak Terkuburkan, 1999). Saat pembuatannya saya juga menggunakan kamera video betacam digital, yang kemudian ditransfer ke film, yang menjadi moment pertama kalinya penggunaan video digital dalam film Indonesia. Saat itu tak seorang pun memikirkannya, tetapi saya melihat teknologi ini akan berkembang, selain pertimbangan-pertimbangan waktu dan biaya saat pembuatan film tersebut.

N: Anda tampaknya orang yang penuh perhitungan, tetapi hal itu tak terlihat dalam film-film Anda. Film-film Anda cenderung liris, berbeda dengan film Teguh Karya misalnya, yang sangat diwarnai konvensi-konvensi teater modern Barat, yang setiap gerak, atau langkah seakan dihitung ketukannya, ketika si A keluar, si B masuk, atau disambut oleh gerak kolektif tertentu?

G: Ini pertanyaan bagus. Dalam kehidupan saya memang selalu bersikap kalkulatif, artinya membuat perhitunagan, dan perkiraan-perkiraan ke depan, paling tidak lima tahun ke depan. Dulu saya sama sekali tidak tahu mengenai komputer, maka saya rekrut mahasiswa-mahasiswa saya di IKJ yang nilainya bagus sekaligus pintar komputer. Tapi dalam membuat film, saya justru sebaliknya. Misalnya, saya sedang berada di Korea, dan mendapat proyek atau ide untuk membuat film tentang Papua. Pilihannya saya kembali ke Jakarta terlebih dahulu untuk menyiapkan kerangka, membuat potnya, merancang rangkaiannya, atau langsung ke Papua untuk memetik bunga-bunga yang ada di sana. Kalau dihitung, jauh lebih efektif dan efisien, jika saya kembali ke Jakarta terlebih dahulu, namun yang saya pilih justru langsung pergi ke Papua, langsung memetik bunga-bunga di sana, sebab saya yakin dari sebanyak sampah yang saya ambil pasti ada mutiaranya.

N: Kembali ke Requiem from Java. Melihat judulnya apakah ini adalah sebuah film musikal, mungkin itu bukan istilah yang tepat, bagaimana jika kita sebut saja film musikanik, untuk membedakan dengan film semacam The Sound of Music, artinya film ini menggarap tentang musik, yaitu requiem “dari Jawa”, yang barangkali bisa dipadankan dengan megatruh, dan digarap mengikuti struktur musik tertentu, requiem atau megatruh itu sendiri misalnya?

G: Bisa dikatakan demikian. Dalam film ini terdapat Requiem Mozart yang dinyanyikan dalam megatruh namun tetap memakai bahasa latinnya.


N: Kesulitan-kesulitan apakah yang Anda hadapi dalam penggarapan film ini? Misalnya, konflik-konflik yang muncul dalam kolaborasi dengan seniman-seniman besar, seperti Sunaryo, Nindityo, Agus Suwage, Tita Rubi, S. Tedy, Hendro Suseno, Entang Wiharso?

G: Tidak. Mereka justru memberikan banyak pencapaian artistik yang mengejutkan. Seperti instalasi Sunaryo, ia memasang deretan bambu-bambu setinggi 8 meter yang ujung-unungnya dipasangi bendera-bendera kecil segitiga berwarna merah dari jarak kira-kira 350 meter ke arah ladang tembakau di kawasan Candi Plaosan, dan menarik kain merah ukuran 1 x 1,5 meter memanjang menuju candi, sangat dahsyat. Jauh melebih harapan.


N: Hal-hal demikian apakah tak berpengaruh pada budget?

G: Tidak. Jikapun terjadi pembengkakan, sangat kecil, dan tak berarti dibanding pencapaian artistiknya.


N: Bagaimana dengan ego-ego para perupanya? Seringkali ego perupa sangat tinggi, di atas rata-rata seniman dari disiplin lain.

G: Ya, tapi disinilah justru saya belajar untuk berbagai ruang dengan yang lain, sehingga film ini tak lagi hanya film Garin, sebagaimana film-film saya sebelumnya, tapi karya bersama.

N: Film ini mendapat kecaman WHYO karena dianggap telah mengaburkan ajaran Hindu, yang menurut Anda premature, karena film ini belum selesai dibuat dan belum dipublikasikan, selain hanya berdasarkan pada sumber kedua, dan tanpa klarifikasi langsung. Apakah Anda melihat di luar itu, kecenderungan fundamentalisme dalam masyarakat atau lainnya?

G: Bagaimanapun masyarakat tak berhak melarang kebebasan berekspresi, melarang penafsiran-penafsiran baru terhadap cerita rakyat. Saya melihat masyarakat kita belum mampu hidup dalam kebebasan. Eforia kebebasan tak diimbangi oleh kode etik. Seharusnya dilakukan sebuah dialog yang dikelola secara arif, kritis, terbuka terhadap upaya perbaikan, dengan penuh kasih, dan sesuai dengan prosedur demokrasi. Apabila belum didapatkan titik temu, baru dilakukan proses meja hijau.


N: Apakah yang Anda maksud dengan “cerita rakyat”. Ramayana merupakan salah satu fase dalam sejarah pemikiran Hindu, yang biasa disebut masa Ramayana, masa Mahabharata, masa Pendeta, masa Kurban, masa Weda. Ini adalah pertarungan agama dengan seni, bukan cerita rakyat, apakah dalam frame tersebut resolusi Anda masih bisa diterapkan?

G: Apa yang saya maksud dengan “cerita rakyat” adalah meskipun ia bersumber dari cerita agama, namun sudah menjadi milik rakyat. Mengenai resolusi yang saya ajukan, saya kira masih. Karena hanya dengan demikian akan tercipta sebuah dinamika, sikap kritis, pemahaman akan agama dan dialog agama yang lebih jauh, jika tidak masyarakat akan serba takut, khawatir, saling curiga dan kehilangan rasa jernih yang melahirkan toleransi semu yang mungkin akan berpuncak pada kekerasan sosial.


N: Konflik agama vs seni merupakan persoalan klasik dan akan terus berulang. Seni, berdiri satu atap dengan ilmu pengetahun, filsafat, yang selalu berusaha melakukan penjelajahan, mempertanyakan segala sesuatu, sementara agama cenderung memapankan sesuatu. Mengambil kisah Ramayana, relasi seni vs agama, sama dengan sastra jendra yang jika berhasil diudar (dibuka) dewa-dewa, personifikasi dari agama, akan mati. Tidakkah dibutuhkan negosiasi baru dalam relasi agama dan seni?

G: Konflik itu memang tak akan pernah selesai. Saya memilih untuk bertahan agar terjadi pergulatan. Selama ini di Indonesia yang terjadi selalu penyesuaian atau negosiasi bukan pergulatan.


N: Berkenaan dengan konferensi pers Anda untuk menjawab pernyataan sikap WHYO, dalam perkiraan Anda apakah kasus ini akan semakin meledak atau surut?

G: Menurut saya ini tak akan berjalan lebih jauh.

 

N: Sebagian kalangan melihat Requiem from Java akan laris karena kasus ini.

G: Saya kira tidak. Ha ha ha. Sudah filmnya Garin (selama ini film-film Garin dikenal tak berhasil di pasaran), ditambah kena kasus lagi.

N: Dalam sejarah, konflik seperti ini selalu memunculkan korban. Jika hal itu terjadi, apakah Anda siap menjadi korban?

G: Tentu saya siap. Sangat siap. Dunia film telah memberi saya banyak hal.

###


Advertisements

About this entry