Anima Isaiah

Oleh Nuruddin Asyhadie

Anima IsaiahPada musim panas 1944, sekitar bulan Pebruari atau Maret, Nyonya Churchill berkata pada Winston, “Berlin ada di kota, ia begitu pemurah pada kita “—Irving Berlin akan menyumbangkan segepok uang guna membeli kereta perang. Entah bagaimana Nyonya Churchill kenal dengannya.

“Jika kau bertemu dengannya, katakan kita akan dengan senang hati menyambutnya,” ujar Churchill. “Aku ingin mengundangnya makan siang.”

“Tidak, tidak, tidak. Tak usah seperti itu. Maksudku kau bisa menemuinya di Churchill Club,” Nyonya Churchill meralat perkataannya. “Sekedar menepuk pundaknya dan bilang bahwa kita sangat berterimakasih.”

“Aku ingin mengundangnya makan siang,,” tegas Churchill, dan Sang istri tak berkata apa-apa lagi.

Cerita punya cerita, duduklah Irving Berlin bersama Winston Churchill yang menyapanya dalam unggah-ungguh birokrat,”Tuan Berlin, menurut hemat Anda, dari semua yang telah Anda kerjakan, manakah yang paling penting bagi kami pada masa belakangan ini?”

Berlin yang malang tentu saja tak memahami pertanyaan yang dilontarkan oleh Churchill. Bimbang, ia menjawab, “Saya tidak tahu, White Christmas, barangkali.”

“Anda orang Amerika?” Churchill mengerenyitkan dahinya. Ada aksen Amerika yang tebal dalam kalimat Berlin.

“Ya? Oh, benar.”

Winston pun kembali bertanya, “Menurut Anda, Roosevelt akan terpilih kembali tahun ini?”

“Pada pemilu lalu saya memilihnya, tahun ini saya kurang yakin,” jawab Irving.

Dahi Churchill semakin berkerenyit, ia tak mengerti siapa yang sedang diajaknya bicara. Ia masih merasa orang di depannya adalah Isaiah Berlin.

Akhirnya Winston berkata kembali, “Tuan Berlin, kapankah Perang Eropa berakhir?”

Berlin menjawab, “Tuan, saya tak akan melupakan peristiwa ini. Saat saya kembali ke negeri saya nanti, akan ceritakan pada anak cucu saya bahwa pada musim panas 1944, Perdana Menteri Inggris Raya bertanya pada saya kapan Perang Eropa berakhir.”

Tak pelak Winston sangat kecewa mendengar jawaban tersebut: ia lantas berdiri dan jamuan siang itu selesailah sudah.

Irving Berlin kembali ke Savoy, dan berbicara pada Sir Alexander Korda teman sekamarnya: “Tuan Churchill mungkin orang terbesar di Inggris, atau bahkan di dunia, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi, entah bagaimana aku merasa kami nggak gatuk. Aku tak tahu mengapa. Sedang sang nyonya begitu luar biasa, saya selalu nyambung bicara dengannya. Saya tidak tahu, ada sesuatu yang tak dapat saya cerna.”

Sementara Winston, seusai perjamuan itu, segera melesat ke sebuah pertemuan Kabinet. Di sana ia menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya sembari memegangi perutnya yang terguncang oleh tawa.

Kisah di atas adalah anekdot mengenai Isaiah Berlin yang paling familiar, paling lucu—terutama membayangkan betapa pecas ndahe Churcil dengan jawaban Irving Berlin, dan dianggap paling kena, karena hingga kini, orang kerap kali salah memahami dan memuja Isaiah Berlin.

Kesalahpahaman itu pula yang tampak dalam tulisan Ahmad Sahal “Isaiah Berlin dan Liberalisme tanpa Universalisme” (Kompas, 4/08/2004) yang berusaha mengajukan ide pluralisme Berlin sebagai obat bagi kecenderungan fundamentalisme dewasa ini dan alternatif dari politik identitas postmodern.

Pertanyaan pertama yang seharusnya terlebih dahulu dijawab oleh Sahal adalah dapatkah pengajuan itu dilakukan? Jika dapat, sejauh manakah kita bisa menekankan nilai pluralisme Berlin untuk situasi dan kondisi hari ini?

Dalam esainya, “Political Ideas in the Twentieth Century”, yang ditulis tahun 1949, Berlin menyatakan bahwa setiap situasi membutuhkan kebijakan tersendiri. Pada masa Berlin, misalnya, yang dibutuhkan bukanlah kepemimpinan yang kuat atau terpercaya—“There was already plenty of that to go around,” tulis Berlin– namun berkurangnya semangat Messianik, bertambahnya skeptisisme pada pencerahan, serta toleransi terhadap hal-hal yang aneh atau berbeda.

Skeptisime terhadap pencerahan dan toleransi barangkali adalah sikap yang baik, namun apakah situasi kita sama dengan situasi Berlin? Apakah kondisi saat ini memerlukan kebijakan yang sama, pluralisme nilai suberversif yang sama, seperti pada masa Berlin?

John Gray, seorang filsuf dan teman dekat Berlin mencatat pertanyaan ini dalam bukunya, Isaiah Berlin (1996), dan menjawab: “Pluralisme agnostik (demikianlah ia menyebut konsep Berlin) hampir tak mungkin tak sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kita, terutama ketika historical theodicies agama-agama politis sebagai ancaman-ancaman bagi kebebasan individu dan tipisnya kesusilaan manusia, seperti Marxisme, telah digantikan oleh bangkitnya kembali fundamentalisme.”

Bahasa fundamentalisme akan selalu muncul, namun, apakah bangkitnya kembali fundamentalisme musti dipertarungkan dengan liberalisme agnostik? Katakanlah, dalam konteks Indonesia, ia adalah Islam radikal, tidakkah ancaman fundamentalisme Islam benar-benar suatu masalah yang berbeda dan jauh lebih efektif jika dilawan dengan, misalnya, penangkapan Amrozi Cs, atau keberadaan aparat keamanan yang kuat dan terlatih?

Jika kita menderita oleh apapun hari ini, itu bukanlah karena fundamentalisme atau idealisme Islam maupun ideologi monistik lainnya, namun oleh sebab keriuhan relativisme, hilangnya tujuan umum, serta tak berseminya kehendak baik dalam demokrasi kita.

Selain itu, reduksi Sahal akan politik identitas postmodern sebagai identifikasi diri berdasar budaya lokal, etnisitas, ras dan agama, sehingga menyimpan represi terhadap kebebasan individu, menunjukan pemahamannya yang ahistoris akan wacana subjek.

Sahal telah mendefinisikan politik identitas postmodern dalam konsepsi subjek abad pertengahan, di mana manusia menyadari dirinya hanya sebagai anggota suatu suku, bangsa, partai, keluarga, atau perkumpulan—hanya lewat kategori umum, khususnya, agama yang menyediakan suatu alam yang bermakna bagi manusia. Agama menjanjikan manusia suatu keselamatan di masa depan, entah di dunia nanti dengan konsep pahala dan hukum yang maha adil, di mana manusia mengatasi kelehaman-kelemahannya di dunia kini dalam suatu inkarnasi nanti maupun di dunia ini dengan konsep kedatangan Juru Selamat.

Ada suatu perbedaan mendasar antara subjek abad pertengahan dan subjek postmodern. Yang pertama didirikan di atas “aku” komunal atau theologis, nilai-nilai yang berada di luar diri manusia yang menyediakan pengaman bagi eksistensinya. Yang kedua dibangun di atas kematian subjek, sehingga menjadi anonim, yang sekaligus berarti multi identitas (lihat Collins, 1992). Dalam subjek postmodern, diri bersifat plastis, dan identitas merupakan konstruksi diskursif yang berubah maknanya menurut ruang, waktu, dan kegunaannya. “Tak lebih dari sebuah narasi diri,” kata Giddens (1991).

Individualitas yang coba diselamatkan Sahal merupakan wujud dari gejala “penemuan kembali diri” Pencerahan. Semakin meredupnya sistem-sistem teologi dan filsafat klasik, serta letupan kreativitas individual dalam kesenian, sastra, politik dan ilmu pengetahuan pada masa Pencerahan merupakan bukti empiris kemampuan manusia untuk mengatasi keterasingannya melalui usaha-usaha mandiri.

Pada artikel seminalnya “The question of Cultural Identity” (1992), Stuart Hall menjelaskan bahwa diri Pencerahan bertopang pada sebuah konsepsi personalitas manusia sebagai sentral, kesatuan individu dengan kemampuan-kemampuan akal, kesadaran, dan kekuatan untuk bertindak yang bertumpu pada inner core. Pusat sesungguhnya dari diri adalah indentitas personal.

Pandangan itu dikenal sebagai subjek Cartesian yang menempatkan rasionalitas, kesadaran subjek individual, sebagai jantung filsafat Barat. Di sini, pikiran dianggap secara inheren memiliki kapasitas rasional yang membuatnya mampu mengalami dunia dan menyadap makna darinya.

Isaiah Berlin menerima individualitas Pencerahan, tapi tidak rasionalismenya. Dalam kuliahnya mengenai “The Decline of Utopian Ideas in the West” tahun 1978, setelah menyebutkan satu demi satu prinsip rasionalitas: (1) semua pertanyaan hanya memiliki satu jawaban, jawaban lainnya pasti salah; (2) sebuah metode eksis karena penemuan jawaban yang benar; (3) semua jawaban yang benar pada akhirnya harus sesuai satu sama lain; ia menyatakan bahwa `gelombang bandang rasionalisme’ sangat problematis: “Dalam syarat-syaratnya sendiri, ia tak mampu menjunjung historisitasnya sendiri, grativitas moral, dan cakrawala-cakrawalanya sendiri; karena itu ia melenceng menjadi sebuah ersatz universalisme.”

Berlin menyadari penuh-penuh potensi totalitarianisme atau universalisme dalam rasionalitas, yang artinya terjatuh pada kubangan yang sama dengan totalitas abad pertengahan, sistem kesadaran yang hendak di lawannya. Itulah sebabnya ia kemudian membangun etika pluralisme nilai melalui fabel landak vs rubah yang membagi para pemikir menjadi dua kategori, landak, yang hanya tahu satu hal besar, dan rubah yang mengetahui banyak hal-hal kecil.

Etika ini menumbuhkan sebuah doktrin politik “liberalisme agnostic”, yaitu liberalisme yang melempar seluruh klaim universalisme ke luar jendela. Berlin lebih memilih negative liberty, “kebebasan dari”, yaitu kebebasan melakukan apa yang kita inginkan tanpa atau dengan interferensi negara yang minimal, tinimbang positive liberty, “kebebasan untuk”, yang ekuivalen dengan “realisasi diri”, tidak dalam pengertian pribadi empiris dengan berbagai harapan dan hasratnya, namun sesuatu yang lebih teoritis, “kebenaran diri.”

Positive liberty bersifat fasis. Individu-individu di sana bukan dilarang untuk melakukan ini—itu, tetapi, dalam frase Rousseau, ditekan untuk bebas, yaitu untuk ambil bagian dalam kasus-kasus politik, dalam perlawanan kelas, dalam nasib ras, suku, atau bangsa. Berlin sendiri tak membunuh nilai positif kebebasan, ia hanya membuat jelas bahwa kebebasan itu mendorong tirani politik dan musnahnya pribadi aktual berikut preferensi aktualnya.

Semua liberalisme terdahulu menyimpan gagasan “pilihan rasional” pada inti mereka, namun karena bagi Berlin tak ada titik Archimides seperti rasionalisme, yang dipergunakan untuk memilahkan pilihan yang salah dan pilihan yang benar, pilihan rasional dalam filsafat Berlin diganti dengan pilihan radikal atau irasional, yaitu pilihan tanpa kriteria, tanpa pondasi, atau prinsip-prinsip. Itulah jantung liberalisme Berlin.

Dibandingkan berbagai roman yang diajukan oleh Locke, Kant, atau John Stuart Mill irasionalitas liberalisme Berlin dipandang membuka kebhinekaan yang luas dan toleransi yang lebar bagi pandangan-pandangan hidup lainnya termasuk yang non-liberal, tetapi seberapa besarkah sesungguhnya keterbukaan itu? Terutama jika kita mendapati kualitas-kualitas correct and bold dalam tulisan-tulisan Berlin, yang seperti diungkapkan oleh Alfred Brendel merupakan daya tarik esei-eseinya, hingga dalam sebuah sidang penghormatan di Hampstead Synagogue, karib Berlin ini memainkan sonata B-minor Schubert?

Kebenaran atau cara yang benar (correctness) menyatakan bagaimana seharusnya. Ketegasan (boldness) hadir bersama sebuah realisasi yang melangkaui semua yang lain, operasi idealisasi, utopia, kecenderungan “bebas untuk”, yang selama ini dihindarinya. “No perfect solution is, not merely in practice, but in principle, possible in human affairs” serunya dalam The Crooked Timber of Humanity: Chapters in the History of Ideas (1992).

Benar bahwa dalam krya-karyanya, Berlin tak mengajukan solusi apapun pada tema atau subjek yang digarapnya. Sebagai contoh, dalam esei, “European Unity and its Vicissitudes” (1959), di mana ia menemukan bahwa logika genosidal inheren dalam Marxisme, Berlin tak berusaha mengatasi kontradiksi-kontradiksi di dalamnya, membersihkan kutu-kutu di rambut Marx atau Stalin, bahkan memahfuminya: “Mereka (musuh-musuh komunisme) bisa dihabiskan—destruksi mereka tak dapat dicegah maupun disesali oleh makhluk rasional, karena ia merupakan harga yang musti dibayar oleh umat manusia bagi perkembangan akal itu sendiri: jalan menuju surga memang bergelimang mayat.”

“Bagaimanapun Marxisme adalah sebuah dunia,” kata Berlin, namun tak hanya berhenti di sana, “Sebuah dunia di mana banyak kaum liberal kontemporer buta dengan perbedaan-perbedaan fundamental antara sistem tersebut dengan liberalisme.” Bagi Berlin, liberalisme Barat merepresentasikan maksud kebebasan negatif; komunisme menyatakan kebebasan positif. Ia pun lantas menyerukan agar pemikir-pemikir Barat melawan komunisme atau setidak-setidaknya tak mencampuradukan dengan liberalisme.

“Solusi” dalam tulisan-tulisan Berlin digantikan “pilihan”. Pada pandangan pertama, pilihan ini tampak tak menghunuskan pedang totalitarianisme, namun bukankah setiap pilihan menyimpan epistemologi tertentu? Memilih adalah sebuah prosesi eksklusi/inklusi. Berlin mula pertama selalu menyajikan dua kategori yang saling beroposisi, positive liberty dan negative liberty dalam “Two Concepts of Liberty”, Rubah dan Landak dalam “The Hedgehog and the Fox”, harmoni dan katastrop dalam “Herzen and his Memoirs”, Voltaire dan Maistre dalam “Joseph de Maistre and the Origins of Fascism” dan sebagainya, kemudian memilih salah satu dari mereka, tentu saja yang sesuai dengan nilai-nilainya, kebenaran-kebenarannya sendiri. Turgenev, Tolstoy, Harzen, Vico yang ia angkat sebagai ekspositor visi alternatif dan korektif, sumber-sumber untuk menebus dan memperbaiki kerusakan-kerusakan alam pikir Barat tak lebih dari alter egonya, di luar itu pergilah ke neraka!

Mungkinkah membangun liberalisme, pluralisme, dengan hanya menghapus rasionalisme dan menggantikannya dengan irrasionalime, radikalisme?

Irrasionalitas atau radikalitas, sepanjang tersusun sebagai sistem kebenaran yang suci, sehingga tak lebih dari rasionalisme dalam bentuk lain, pasti akan mengejar totalitas, membangun suatu keutuhan yang berpangkal pada ego atau “aku”, bertolak dari “aku” dan kembali ke “aku”. Plotinos telah mengatakan bahwa jiwa tak pernah pergi ke sesuatu yang lain kecuali dirinya sendiri.

Problem utama bagi kejahatan-kejahatan manusia, nafsu imperialisme, bukanlah fundamentalisme, universalisme, atau rasionalisme. Keduanya hanyalah ekses dari narsisisme, dari kecintaan pada diri, baik komunal maupun personal. Mustahil membangun pluralisme atau liberalisme di atas individualitas, sebab di dalamnya tak ada tempat bagi liyan (the other), kecuali dirinya sendiri. Inilah yang tak dilihat oleh Berlin maupun Sahal.

Penolakan Berlin terhadap relativisme merupakan bukti nyata dari kemustahilan tersebut: “Pluralisme meniadakan bahwa ada satu, hanya satu moralitas atau estetika yang benar dan membiarkan nilai-nilai alternatif atau sistem-sistem nilai yang setara sementara relativisme adalah sebuah doktrin yang mengacu pada pengadilan seseorang atau kelompok, karena ia hanyalah ekspresi dari pernyataan rasa, tingkah emosional atau pandangan, demikian saja, tanpa korelasi objektif yang mendeterminasikan kebenarannya atau kesalahannya.” (Berlin, 1992). Relativisme mensyaratkan “aku” untuk keluar dari imanensi atau interioritasnya, dan itu berarti sebuah ancaman bagi eksistensi individu, sebab ia harus lenyap dalam apa yang disebut oleh Levinas le visage nu, wajah telanjang, yang Tak Berhingga dari liyan, sementara justru eksistensi individu inilah yang tampaknya ingin dipertahankan oleh Berlin.

Memperhatikan lebih lanjut tulisan Berlin, kita akan mendapati betapa Berlin memiliki nafsu yang menyolok pada peristiwa sosial besar dan menunjukan pandangan yang berbeda, dan tak umum. Operasi ini semacam aplikasi mikroskopik negative liberty, di mana sebuah pribadi harus bebas dari uniformitas, homogenitas, common sense, yang sadar atau tidak mencerminkan suatu tujuan tertentu atau landasan tertentu yang dianggap semestinya.

Individualitas Berlin adalah semacam spesialisasi diri otentik yang melankolis. Penis yang selalu merasa terancam terhadap pengebirian Vagina. Menjadi berbeda, the outsider, the outlander, dalam kemandirian Kantian (filsafat yang ia baca dan diskusikan bersama Schmuel Rachmilewitch pada masa kecilnya, di samping karya-karya penulis Rusia Abad 19), merupakan kunci dari konsep ini.

Tak heran jika kemudian pluralisme Berlin terpuruk dalam prinsip-prinsip hak dan keadilan, sepak terjang khas dari seseorang yang terancam oleh gravitasi dari luar dan ingin membangun garis demarkasinya sendiri.

Semua itu membuat kita juga memahami mengapa sugesti Sahal di akhir tulisannya agar kita menjadi liberal dengan watak rubah yang pluralis, tanpa harus terjatuh dalam sikap landak ala Pencerahan menjadi kontradiksi dalam dirinya sendiri, terjengkang dalam moralitas kelandakan untuk merubah.

Berjalin genggam dengan Gray, Isaiah Berlin adalah seekor landak Bukan hanya karena semua karya Berlin diputar oleh sebuah ide tunggal pluralisme nilai, atau sebagaimana disampaikan Ignitieff, Isaiah hanya mengerti satu hal, bahwa yang dibutuhkan jamannya adalah mengetahui banyak hal, tetapi lebih pada kenyataan bahwa satu-satunya hal yang ia ketahui adalah ketika sesuatu datang mengancam ia harus menegakan duri-durinya.

###

Advertisements

About this entry