Thus the flying cupid pigs kill you for your sake

Oleh Nuruddin Asyhadie

Saint Valentine, throned aloft,
Thus little birds sing for your sake
(Geoffrey Chaucer, The Parliament of Fowls)

Bukan the Joker atau buku killing joke yang menjejakkan seringai tawa di wajah mayat-mayat itu, tetapi babi-babi cupido terbang bersenapan mesin.

Cinta hari ini bukan lagi seekor burung, malaikat kecil yang akan mengusir prahara musim dingin dengan sinar mentarinya yang lembut. Ia telah kehilangan kekuatan pembebasnya, kehilangan keluguannya, kemurniannya, ketulusannya, dan berubah menjadi mesin pembunuh yang siap menyantap tubuh kita. Dan tragisnya, babi-babi itu tetap terlihat sebagai malaikat-malaikat kecil, sehingga kita tertawa di hadapan
elmaut yang dikirimkannya.

Inilah salah satu karya yang dipamerkan dalam Expired Date 1402 di galeri Roemah Roepa, Kemang, 14-25 Pebruari 2008, yang ingin menelanjangi kemunafikan-kemunafikan cinta di tengah absurditas, banalitas, dan kebasnya hubungan antar manusia dalam masyarakat urban, atau secara lebih luas masyarakat kapitalis.

Babi-babi cupido itu, yang diusung oleh Unggul Kardjono itu bukanlah sebuah satire yang orisinal, ia bahkan telah menjadi metafor mati dari gerakan anti-Valentine, atau lebih tepatnya gerakan anti banalitas valentine, yang di satu sisi menolak perayaan hari Valentine, namun di sisi lain merupakan perwujudan hasrat-hasrat romantisisme terhadap spirit Valentine atau cinta yang sejati yang telah hilang terkoyak waktu, modernitas, konsumerisme, seperti yang disajikan oleh lukisan-lukisan Ponk-Q dan foto hot-dog warna-warni karya Keke.

Dalam berbagai kebudayaan, babi merujuk pada sifat rakus, agresivitas, atau kecenderungan memonopoli, yang dalam pemaknaan positifnya menjadi simbol akan kekayaan atau kesejahteraan. Dalam bahasa kita sendiri dikenal ungkapan “Membabi Buta” yang dalam pameran ini juga dipakai dalam mural Uke dan Popo.

Babi cupido tidaklah sama dengan cinta buta si malaikat kecil yang tertutup matanya. Cinta buta adalah kondisi ketika dirimu mentransenden dan masuk secara total pada wajah telanjang liyan, ketika dirimu menjadi anonim dan kau tak memerlukan syarat apapun atas cintamu. Sedang babi-babi cupido itu justru kebalikannya, ia bersifat
totaliter, memberangus keliyanan liyan dan menjadikan liyan sebagai alteregonya. Ia hidup dalam “Pintu Tertutup” Sartre, ketika liyan tampak sebagai ancaman sehingga harus dikuasai. Cintanya adalah cinta-kekuasaan dalam terminologi Erich Fromm, cinta berbalas, bukan “tepuk sebelah tangan”—istilah yang terlanjur berkonotasi negatif, dimaknai sebagai sebuah kekalahan, yang tentunya merupakan derivasi dari intensi cinta berbalas.

Tetapi kita harus mengakui bahwa ini bukanlah hal yang mudah. Valentine, cinta, dan apapun dalam kehidupan kita, tak pernah menampilkan diri sebagai sesuatu yang jelas dan terpilah, melainkan sebuah keburaman, sebuah aporia (sebuah kontradiksi internal yang tak dapat diperbaiki), hantu.

Karena keburaman itulah maka diperlukan kehati-hatian, bukan sekedar hati, dalam memutuskan.

“Sebuah keputusan harus melampaui keburaman,” kata Derrida.

Tanpa kehati-hatian, maka sebuah percintaan atau cinta suci menjadi cinta berahi. “Valentine menjadi Fucklentine,” kata karya Unggul yang lain, yang menampilkan gambar Jhon-Yoko berlatarbelakang lukisan Guernica Picasso, dengan tulisan WAR IS OVER besar-besar, serta kutipan semboyan mereka: “Make love not war”.

“Making love”, sebuah ritual penyerahan, keikhlasan, dengan gampang bisa terjerembab menjadi “making war”, sebuah pertarungan kekuasaan. Percintaan Wisrawa dan Sukesi adalah gambaran baik akan hal ini. Bagaimana paduan cinta mereka, yang seharusnya mampu menjabar hakikat Sastra Jendra Hayuningrat, tulisan indah peruwat dunia, justru jatuh sebagai pesta nafsu dan akhirnya menciptakan kejahatan yang direpresentasikan oleh klan Alengka.

Kelinci-kelinci Vonny memberikan cerminan akan kejatuhan ini. Domestifikasi kelinci menjadi binatang peliharaan tak pelak lahir dari kecintaan akan binatang tersebut, tetapi cinta itu justru dimainkan dalam bangunan-bangunan kekuasaan, yang secara lahiriah adalah domestifikasi itu sendiri, dan secara psikis adalah proyeksi-proyeksi kita terhadap peliharaan tersebut, yang membuat kita menghapus keliyanannya.

Kejatuhan ini juga bisa kita kecap dari karya-karya Hennny Purnama Sari yang alih-alih menyuarakan keseimbangan, yin-yang, 69, iblis-diva, mereka mengenakan jubah kebinalan, sehingga menjadi banalitas yang dilawannya sendiri, menggantikan tata susila yang dianggap sebagai kemunafikan dengan isusila yang ditakrif sebagai kejujuran, kesejatian.

Atau bagaimana pameran ini hanya menjadi keping-keping puzzle yang berserakan, tak mampu berdialog satu sama lain atau membentuk konstruksi puzzle yang utuh.

Bahkan pembunuhan atau penguburan St. Valentine, pengadaluarsaan tanggal 14/02 bisa jadi menyimpan dorongan-dorongan cinta-kekuasaan, cinta berbalas. Penguburan atau pengadaluarsaan ini, bisa jadi merupakan upaya merebut Valentine dari tangan publik, yang ketika usaha-usaha itu tampak muskil, ketika cinta mereka pada Valentine yang kini menjelma dalam tubuh publik sebagai perayaan hari Valentine tertolak, maka satu-satunya cara adalah membunuh sang Valentine itu sendiri, dan menguasainya di dinding-dinding galeri ini.

“Saya tidak membunuh mereka, saya justru membuat mereka abadi,” jawab Sumanto, ketika ia ditanya bagaimana sampai tega melakukan kanibalisme.


Usaha-usaha para perupa dalam pameran ini, mengingatkan pada film dari von Trier, sutradara terkemuka Denmark, penggagas Dogme95.

Film itu berjudul The Idiots (1998). Bercerita tentang sekelompok anak muda snob yang terinspirasi untuk mendapatkan kembali keidiotan asali yang tersimpan dalam diri mereka. Mereka pun turun ke jalan, bersola-tingkah sebagai idiot, hingga orang-orang di restauran, taman, dan pabrik yang mereka kunjugi merasa takut dan mengambil jarak.

Gerombolan itu pergi ke sebuah rumah kosong milik paman salah seorang dari mereka di daerah pinggiran. Menjadikan rumah itu sebagai “surga purbawi” mereka. Lama-kelamaan tingkah mereka benar-benar sakit. Mereka mengencingi mobil perwakilan dewan kota praja yang akan memberi dana jika mereka mau pindah ke suatu tempat, menitikan liur saat wawancara kerja, berlari telanjang di jalanan, gang bang, dan sebagainya. Segala kesintingan itu membuat mereka merasa mencapai kesenangan sejati. Hingga suatu saat salah seorang dari mereka dijemput oleh orang tuanya, dan tak memiliki kekuatan untuk menolak. Sebuah pertanyaan melabrak, “Seberapa jauh kita ingin mencecap kesenangan itu?”

Pada akhirnya mereka gagal dalam melaksanakan perjalanan retour a la nature itu, kecuali tokoh Karen, yang meskipun turut serta dalam permainan tersebut, tetapi mengambil jarak dan tetap berdiri di atas rasionalitas. Ia memilih bertindak sebagai pengamat, mereflesikan semua teknik ganjil yang dipertontonkan dan sensasi-sensasi yang diterimanya. Ketika seluruh anggota kelompok itu pulang ke rumah masing-masig, kembali ke kehidupan normal mereka, Karen justru mempraktekan keidiotan yang telah ia pelajari di hadapan keluarganya. Ia berhasil menembus ketakutan utama kelompok tersebut, membayar lunas harga sosial menjadi seorang idiot di hadapan orang-orang yang dicintainya. Sesuatu yang tak mampu ditanggung teman-temannya.

Dalam pameran ini, posisi Karen mungkin bisa kita perbandingan dengan instalasi karya Zeke, yang menampilkan rekaman playback sebuah lagu “introvert” yang dinyanyikannya sendiri dengan sebuah patung pemusik di depan sebuah organ, serta elemen visual lainnya. Atau karya-karya ‘studi anatomi” Kamto. Karya-karya itu seakan `cuek’ dengan agenda pameran ini. Karya-karya itu bercerita tentang dirinya sendiri, tubuh-tubuh itu sendiri atau instalasi pemusik itu sendiri sebagai sebentuk penampilan atau seni visual. Tak ada yang lain. Kamto dan Zake hilang bentuk di sana.

“Keidiotan seperti hipnotis atau ejakulasi; jika kau menginginkannya, kau tak akan mendapatkannya. Sebaliknya jika kau tak menginginkannya, maka kau akan mencapainya,” kata Trier. Inilah “bertepuk tanpa bertepuk”.

###

Dibawakan dalam diskusi Spirit Seni Rupa Kontemporer sebagai rangkaian EXPIRED DATE 1402 di Galeri Roemah Roepa, 23 Pebruari 2008.

Advertisements

About this entry