Paramarupa Film Horor Kita

Oleh Nuruddin Asyhadie

paramarupaFilm horror hampir sama tuanya dengan film itu sendiri. Hanya satu tahun dari demontrasi proyektor pada tahun 1895 oleh Robert Paul di London, Lumiere bersaudara di Paris, dan Thomas Alva Edison di Atlanta, Georges Méliès membangkitkan hantu-hantu dari kubur dan merekamnya dalam Le Manoir du Diable (1896). Semenjak itu orang dapat melihat hantu-hantu tanpa memerlukan kekuatan gaib.

Meski film mulai dikenal di Indonesia semenjak awal Abad 20, butuh waktu 41 tahun bagi rakyat negeri ini untuk menyaksikan hantu-hantu mereka sendiri di layar. Itu jika kita menghitung film Tengkorak Hidoep (1941). Kalau Lisa (1971), yang disebut-sebut sebagai film horror Indonesia pertama, sebagai patokannya maka waktu yang diperlukan adalah 71 tahun.

Posisi dua film itu, seperti fakta-fakta sejarah lainnya, masih bisa diperdebatkan, namun yang jelas keduanya dibangun di atas subgenre horror yang berbeda. Tengkorak Hidoep menampilkan sebuah demonic horror atau satanic horror (arketip film horor), monster yang bangkit dari kubur dan ingin membalas dendam pada reinkarnasi orang yang telah membunuhnya dalam sebuah pertarungan. Lisa mengetengahkan sebuah psychological horror, seorang Ibu tiri yang dihantui figur fantasmatik anak tirinya yang telah ia suruh binasakan ke orang, namun sesungguhnya masih hidup, dan bersembunyi di suatu tempat.

Berkebalikan dengan Tengkorak Hidoep, Lisa tak begitu sukses di pasaran, namun ia melakukan sebuah lompatan dalam perkembangan film horror. Keberadaan figur fantasmatik yang meneror sang ibu tiri membangun permainan intertekstualitas, yang pada saat itu bahkan belum terpikirkan oleh dedengkot-dedengkot film horror Barat, dan baru muncul di era 90-an lewat film Heavenly Creatures (1994) arahan sutradara New Zealand, Peter Jackson.

Di tahun 1971 itu pula muncul film Beranak dalam Kubur, yang seperti Tengkorak Hidoep menjual iblis yang bangkit dari kubur demi membalas dendam pada kakak yang membunuhnya untuk menguasai perkebunan milik keluarga, namun anehnya juga menakut-nakuti penduduk.

Sebuah psychological horror lain, berjudul Pemburu Mayat, diproduksi pada tahun 1972, berkisah tentang pencuri mayat yang mengidap nekrofilia (suka menyetubuhi mayat) dalam permainan logika ala Hitchcock yang mengejek metode deduksi.

Sebagaimana tahun sebelumnya, kemunculan film dengan subgenre seperti itu juga diiringi film demonic horror, seakan-akan terjadi sebuah pertarungan antara dua ethos ini. Judul film itu adalah Ratu Ular (1972), menceritakan seorang janda cantik kaya pemuja setan.

Tahun-tahun selanjutnya, dalam dekade 70-an, kita dapat melihat siapa pemenang pertarungan tersebut. Dari 20 judul film horror yang diproduksi selama 1973—1979, semuanya menampilkan kisah-kisah demonic horror yang bercampur dengan okultisme, sadisme, seks, dan komedi: Cincin Berdarah (1973) Mayat Cemburu (1973) Si Comel (1973), Si Manis Jembatan Ancol (1973), Drakula Mantu (1974), Kemasukan Setan (Dukun) (1974), Kuntilanak (1974), Arwah Penasaran (1975), Penghuni Bangunan Tua,(1975), Setan Kuburan (1975), Ingin Cepat Kaya (1975), Arwah Komersil dalam Kampus (1977), Dewi Malam (1978), Godaan Siluman Perempuan (1978), Pembalasan Guna-Guna Istri Muda (1978), Tuyul (1978), Kutukan Nyai Roro Kidul,(1979), Penangkal Ilmu Teluh,(1979), Tuyul Eee Ketemu Lagi (1979), Tuyul Perempuan (1979).

Kemenangan tersebut agaknya didorong oleh trend film horror global masa itu yang berkiblat pada Rosemary’s Baby (1968) Roman Polanski, film berbudget rendah, namun sukses secara pemasaran dan dipuji-puji kritikus. Film Kemasukan Setan (Dukun) (1974) menunjukan keterpengaruhan yang kuat, jika tak mau dibilang mengadaptasi, The Exorcist (1973), film William Friedkin, salah satu pengikut Polanski. Munculnya klenik seperti dalam Pembalasan Guna-Guna Istri Muda (1978), Cincin Berdarah (1973), Penangkal Ilmu Teluh (1979), juga menunjukan jejak Polanski. Masuknya monster gothic Eropa untuk pertama kalinya ke dalam film horror Indonesia, seperti drakula dalam Drakula Mantu (1974) merupakan hasil sadapan terhadap film-film para sineas Italia seperti Mario Bava, Dario Argento, Lucio Fulci, atau Spanyol seperti Jacinto Molina, Jesus Franco yang pada tahun 70-an menghadirkan kembali hantu-hantu tradisional Eropa yang sebelumnya, di tahun 50-an digarap oleh Hammer Films. Atavisme orang-orang Eropa itu mengilhami pula naiknya makhluk gaib-makhluk gaib lokal seperti tuyul dan Nyai Roro Kidul.

Kejutan di masa itu diberikan oleh Mayat Cemburu (1973), yang menjadi momen pertama kali penggarapan comedy horror, bukan hanya di kancah perfilman nasional, tetapi juga internasional. Sayang, sejarah justru mencatat Close Encounters of the Spooky Kind (1980) Sammo Hung sebagai pelopor subgenre ini.

Tahun 80-an merupakan tahun keemasan film horror Indonesia. Tercatat 69 judul film horror disuguhkan ke khalayak—jumlah produksi tertinggi genre horror sampai saat ini. Demonic atau satanic horror masih menjadi favorit. Dari 69 judul tersebut hanya ada satu yang mengambil bentuk psychological horror, yaitu Misteri Sumur Tua (1987).

Maraknya produksi film horror pada masa-masa itu dibarengi dengan peningkatan kualitas. Ratu Pantai Selatan (1980) mendapatkan piala LPKJ pada FFI 1981 untuk Spesiak Efek; Akting Rina Hassim dalam Genderuwo (1981) masuk unggulan FFI 1981 untuk Pemeran Pembantu Wanita; Dalam FFI tahun yang sama Ratu Ilmu Hitam (1981) bahkan masuk unggulan dalam lebih banyak kategori, Suzana untuk Pemeran Utama Wanita, WD Mochtar untuk Pemeran Pembantu Pria, juga editing, fotografi, dan artistik. Pada FFI 1987, 7 Manusia Harimau (1986) masuk unggulan untuk Pemeran Pembantu Pria (Elmanik), sementara Pernikahan Berdarah (1987) diunggulkan untuk kategori Artistik pada FFI 1988.

Penonton juga semakin baik merespon film-film jenis ini. Sundel Bolong (1981) mencapai 301.280 penonton dan menjadi Film Terlaris III di Jakarta pada tahun 1981. Nyi Blorong (1982) menjadi Film Terlaris I di Jakarta pada tahun 1982, dengan jumlah penonton 354.790, jumlah yang membawanya menggondol Piala Antemas FFI untuk Film Terlaris 1982—1983. Pada tahun itu pula Setan Kredit (1982) menjadi Film Terlaris IV di Jakarta dengan 279.446 penonton. Telaga Angker (1984) juga menjadi Film Terlaris IV di Jakarta pada tahun 1986, ia menarik minat 235.491 penonton. Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986) yang dilarang diputar di Lampung karena sadisme dan pornografi, menjadi Film Terlaris IV di Jakarta tahun 1987, mengumpulkan 290.412 penonton. Dengan meraup 325.473 penonton, Santet (1988) menjadi film terlaris V di Jakarta, 1989.

Dekade selanjutnya, jumlah produksi film horror menurun sampai lebih dari separuh. Hanya ada 33 judul. Beberapa adalah sekuel dari film sebelumnya, seperti Misteri dari Gunung Merapi II (Titisan Roh Nyai Kembang) (1990), Misteri dari Gunung Merapi III (Perempuan Berambut Api) (1990), yang melanjutkan Misteri dari Gunung Merapi (Penghuni Rumah Tua), (1989) atau versi layar lebar serial televisi yang sukses, seperti Si Manis Jembatan Ancol (1994). Selebihnya hampir semua adalah variasi dari tema-tema sebelumnya, hanya jauh lebih berani dalam pamer tubuh, sebagai bagian dari fenomena film ‘esek-esek’ masa itu, sebagaimana yang diperlihatkan oleh Gairah Malam (1993), Godaan Perempuan Halus (1933), Misteri di Malam Pengantin (1993), Susuk Nyi Roro Kidul, 1993Godaan Membara, 1994, Cinta Terlarang (1994), Pawang (1995), Bisikan Nafsu (1996), Mistik Erotik (1996), Rose Merah, (1996), Birahi Perempuan Halus (1997).

Psychological horror tetap kurang dilirik dan terpinggirkan. Seperti periode sebelumnya hanya terdapat satu judul, yaitu Guntur Tengah Malam (1990). Bahkan kali ini, tampak sebuah usaha untuk mensintesiskannya dengan demonic horror. Film ini mengisahkan perebutan harta antara seorang tante dengan dua keponakannya, laki-laki dan perempuan, plus istri sang keponakan laki-laki, yang berkomplot membunuhnya dengan ilmu gaib. Ketiga anggota komplotan itu kemudian dihantui rasa bersalah, sampai pada akhirnya Si keponakan perempuan tewas secara mengerikan, sementara sang keponakan laki-laki dibunuh oleh istrinya sendiri yang sebelumnya masuk rumah sakit jiwa dan berubah menjadi monster.

Kisah Nyata Dukun AS (Misteri Kebun Tebu) (1997) dan Misteri Banyuwangi (Dukun Santet) (1998) mencoba memunculkan gagasan segar dengan mengangkat kisah nyata ke dalam film horror dan melahirkan dua subgenre baru, sebut saja biographic horror untuk Kisah Nyata Dukun AS yang mengangkat pembunuhan berantai yang dilakukan dukun berinisial AS yang mengaku telah membunuh 42 orang, setelah ditemukannya mayat 26 perempuan di Perkebunan Nusantara II, Dusun I, Kelurahan Aman Damai, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, tahun 1997; dan socio-historical horror bagi Misteri Banyuwangi yang berangkat dari kasus “perburuhan para dukun” pada tahun 1998 yang hingga kini belum terungkap.

Film horror yang masuk Film Terlaris pada dekade 90-an ini adalah Ajian Ratu Laut Kidul, (1991), Film Terlaris V di Jakarta pada 1992, ditonton oleh 251.089; Skandal Iblis (1992), film Terlaris III Jakarta 1993 dengan 216.183 penonton; dan Gairah Malam (1993), yang mengumpulkan 269.804 dan menjadi Film Terlaris III di Jakarta tahun 1994.

Film horror Indonesia pada milenial ke dua ditandai oleh kemunculan Jelangkung (2001). yang memberi nuansa lain, karena kekuatannya dalam fotografi, editing,dan suara. Dari Oktober 2001 sampai Januari 2002 ditonton 748.003 orang di Jabotabek. Pada FFB 2002, ia mendapatkan penghargaan Terpuji untuk Efek Khusus

Jelangkung, menghadirkan karakter-karakter remaja urban, yang sebelumnya tak pernah disentuh oleh film horror Indonesia, tetapi semenjak Scream (1996) karakter-karakter remaja dalam film horror memang merebak.

Film Rizal Mantovani ini juga dipengaruhi film-film J-Horror (horor Jepang) yang menjadi trend internasional semenjak keberhasilan Ringu karya Hideo Nakata di tahun 1997. J-Horror lebih menampilkan adegan-adegan menegangkan dan mengerikan tinimbang gelimang darah—The Sixth Sense (1999) M. Night Shyamalan adalah contoh paling berhasil dari film Barat yang dirasuki ruh Nakata.

Pengaruh itu, serta kepercayaan Rizal pada gambar, sebagaimana generasi baru perfilman Indonesia, serta latar belakangnya sebagai pembuat video klip, membuatnya abai pada cerita dan lebih memfokuskan diri pada visualisasi. Sadar atau tidak, Rizal telah memindahkan film horror Indonesia dari narrative horror ke visual horror.

Film-film horror Indonesia selanjutnya banyak yang mengikuti upaya Jelangkung. Sebut saja Tusuk Jelangkung (2002) Dimas Djayadiningrat yang dianggap kelanjutan Jelangkung, film-film Nayato, seperti The Soul (2003) yang terpuji untuk fotografi dalam FFB 2004, Ada Hantu di Sekolah (2004), 12:00 AM (2005), atau Bangsal 13(2004) Ody C. Harahap, dan Mirror (2005) Hanny R. Saputra.

Di samping film-film visual horror tersebut, masih terdapat film horror Indonesia yang tetap percaya pada cerita. Titik Hitam (2002) misalnya, hanya menjadikan horror sebagai bumbu kisah cinta segi tiga yang melibatkan dua bersaudara sepupu yang memiliki indra keenam; Kafir (Satanic) (2002), sebuah biographic horror seorang dukun di Cirebon; Peti Mati (The Coffin) (2003), yang berkisah tentang penghindaran takdir model Final Destination (2000), dengan latar budaya Tionghoa peranakan; Di Sini Ada Setan, The Movie (2004), yang bercerita mengenai liburan yang berubah menjadi malapetaka semacam I Still Know What You Did Last Summer(1998); atau Kanibal—Sumanto (2004) yang diangkat dari kisah nyata Sumanto “Si Pemakan Mayat” yang menghebokan.


Kafir (Satanic) (2002) mendapat penghargaan Terpuji untuk Aktris (Meriam Bellina) pada FFB 2003, sementara Peti Mati (The Coffin) (2003) menerima Terpuji untuk Aktor (Sandy Nayoan) dalam festival yang sama.

Dalam 33 tahun, berangkat dari Lisa (1972), atau 64 tahun, jika menghitung Tengkorak Hidoep (1941), ada banyak hal yang telah dicapai film horror Indonesia, namun semua itu seakan tersilap. Orang hanya mengingat adegan-adegan sadis, immoral, dan mistik, saat mendengar film horror Indonesia disebut. Bukan tak mengakui sisi-sisi gelap itu, tetapi toh mereka tak musti menjadi nila perusak susu sebelanga. Bukan pula berarti sebuah pemahfuman kinerja ala kadarnya. Agar penonton tak tertawa ketika kita ingin menakutinya. Agar mereka tak menangis saat kita ingin menggelitik perutnya. Hanya itu.

###

Advertisements

About this entry