Kesenangan & Ketakutan; Paradoks Sebuah Hati

Oleh Nuruddin Asyhadie

ketakutan“Nonton kok ditakut-takuti!” Demikianlah olok-olok yang sering disemburkan pada para pecandu film horor, terutama oleh mereka yang memandang menonton adalah aktivitas mencari hiburan. Nyatanya banyak orang menyukai film horor, tak terkecuali anak-anak. Mereka seakan menghisap kesenangan berbeda dalam rasa takut. Apakah yang sesungguhnya berderak dalam paradoks hati ini?

Tahun 1990, Noel Caroll menerbitkan The Philosophy of Horror; or, Paradoxes of the Heart. Buku pertama dan satu-satunya sampai saat ini, yang membuka sekaligus menutup diskusi mengenai ambiguitas kesenangan yang didapatkan dari film horror. The Philosophy of Horor sangat definitif, begitu definitifnya hingga menyisahkan sekelumit ruang saja bagi penyelidikan selanjutnya.

Jawaban Carroll terhadap pertanyaan di atas adalah orang tak benar-benar mendapatkan kesenangan dari ‘art-horror’, sebuah istilah yang digunakan Carroll untuk menunjukan dunia khayali cerita horror, namun dari struktur plot, yang berkembang dalam proses penyingkapan dan penegasan. Proses itulah yang memberikan kepuasan secara kognitif pada pemirsa.

Emosi yang ditimbulkan oleh ‘art-horror’ bukan tujuan utama dalam konsumsi fiksi-fiksi horor. Ia adalah ongkos yang musti dibayar demi mendapatkan jawaban atas sebuah rahasia. Rahasia dari sesuatu yang muskil dan tak masuk akal, yang telah mengusik skema konseptual kita.

Objek-objek ‘art-horror’, menurut Carroll, adalah semua makhluk yang oleh sains kontemporer diyakini tak ada. Monster-monster adalah makhluk yang berbahaya dan najis, sehingga menerbitkan rasa ngeri dan jijik dalam diri manusia. Orang takut pada mereka walaupun tahu mereka tidak ada. Makhluk-makhluk itu hidup dalam apa disebut oleh Rene Descartes ‘realitas objektif’, yaitu realitas pikiran, bukan ‘realitas formal’ atau realitas nyata.

Kejijikan itu timbul dari keterbelahan diri manusia sebagai makhluk yang bertubuh dan berjiwa, dari bercampurnya dua dunia. Potongan tubuh-tubuh bergerak, serigala jadi-jadian, vampire yang hidup abadi, sundel bolong, dan sebagainya, yang terperangkap di dua dunia itu meruntuhkan bangun konseptual manusia.

Untuk memahami paradoks kesenangan dalam kisah-kisah horor, orang harus mengingat kembali esei “Of Tragedy” David Hume dalam Essays Moral, Political, and Literary (1777). Hume memandang kesenangan [yang bersumber dari atau atas tragedi] timbul dari naiknya hasrat terpendam ke permukaan. Hasrat, meski muncul secara alami, atau terangsang oleh sesuatu, juga merupakan sesuatu yang menyiksa. Kemudian ia diperhalus dan diperlembut oleh tangan seniman hingga berubah menjadi hiburan yang sangat menyenangkan. Kalau sebuah karya seni cuma hangat-hangat kuku, tak begitu tragis, maka emosi yang ditimbulkannya juga kurang kuat.

Analisis vektor Humean ini diterapkan Carroll pada respon emosi terhadap horor. Rasa jijik dan teror yang dilesakkan oleh ‘art-horror’ bukan kesenangan, tetapi sentimen-sentimen hidup. Kesakitan yang muncul dari reaksi kejijikan yang menguasai akan teratasi oleh narasi yang menarik. Jadi lokus ketertarikan orang pada kisah horor bukanlah monster namun struktur narasi yang mementaskan monster tersebut.

Rasa penasaran adalah jantung semua narasi. Sebuah narasi yang tak menggugah hasrat keingintahuan akan kehilangan daya tarik.”’Bagaimanapun, kisah horor merupakan variasi khusus dari motivasi umum narasi, sebab ia bertumpu pada sesuatu yang dari fitrahnya gaib, tidak ada.” tulis Carroll. Ia menyimpulkan bahwa kesenangan yang didapat dari kisah horor dan kunci daya tarik genre tersebut terletak pada proses penemuan, pembuktian, dan penegasan.

Carroll memang telah memberikan solusi yang cerdas, dengan menyetarakan kesenangan atas horor dengan kesenangan atas tragedi milik Hume, namun ia tampak gagal atau tak mau menjelaskan kompleksitas rasa takut atau sakit itu sendiri. Dengan menarik pembatas yang tegas, bahwa rasa takut, sakit, tak akan pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan, Carroll memindahkan kesenangan itu pada sumber yang lain yaitu plot, tempat yang berbeda dengan yang telah membangkitkan rasa takut manusia saat melihat hantu-hantu atau monster-monster. Tak cukup di situ, ia juga mengamputasi rasa takut itu dengan menyatakan bahwa sumber ketakutan tersebut tidak ada, dan orang paham akan hal itu. Kengerian yang menyergap meski sesuatu yang wajar namun adalah sebuah perasaan palsu, ilusi yang lahir dari ‘kesalahan kategoris’ akibat dualisme manusia. Bagaimana orang bisa takut pada sesuatu yang ia tahu tidak ada? Dengan pembungkaman rasa takut tersebut maka ia seperti ingin menyatakan bahwa hanya ada satu hal ketika orang melihat film horror yaitu kesenangan, kesenangan yang dihirup dari plot penemuan, pembuktian, dan penegasan, kesenangan terhadap misteri yang muncul dari hasrat keingintahuan.

‘Monstrous Equivocation’ Mark Vorobej dan “Horror and the Problem of Personal Identity” David Shaw, dalam jurnal Film and Philosophy Volume 3, 1996 melihat kegagalan itu karena Carroll membatasi definisi ‘art horror’ pada film-film atau kisah-kisah horror klasik, dan melupakan film-film horror yang lahir kemudian seperti Psycho atau Dead Ringers, yang tak menyajikan monster-monster atau hantu-hantu yang sesungguhnya tidak ada.

“Why we put ourselves through that large class of horrific film experiences which do not involve impossible monsters?” tanya Vorebej.

Carrol memang telah melupakan jenis film horror yang oleh David Shaw dinamai sebagai ‘realistic horror’ tersebut, namun pertanyaan Vorebej, yang secara implisit juga diajukan oleh Shaw, sesungguhnya selesai dengan kesimpulan Carrol, bahwa mereka (penonton) datang untuk sebuah kesenangan terhadap misteri, untuk hasrat-hasrat keingintahuan mereka, sebab menonton film horror bukan masalah merasakan kengerian atau ketakutan.

Meski demikian, dengan melepas terlebih dahulu kata-kata “the large class of horrific film experiences” dari pertanyaan tersebut, Vorebej dan Shaw menyadarkan kita akan unsur yang berpotensi meruntuhkan tesis Carroll. Tanpa monster-monster itu, artinya objek film horror bukan sesuatu yang tidak ada, atau disadari tidak ada, artinya kengerian atau ketakutan di sana tak bisa lagi menjadi sekedar ilusi, melainkan sesuatu yang riil, paling tidak lebih riil, tentu masih dalam batas virtualitas ‘realitas objektif” Descartes, namun resistensi penonton menjadi lebih longgar, sehingga memungkinkan proses identifikasi diri penonton dengan objek-objek dalam film horror. Konsekuensinya kesenangan yang dibetot bukan melulu pada plot penemuan, pembukaan, dan penegasan, bukan melulu terpenuhinya hasrat-hasrat keingintahuan.

Inilah yang kemudian coba dijawab oleh Shaw melaui psikoanalisa Freudian. Monster (dalam batasan yang lebih longgar, termasuk di dalamnya manusia jahat) merepresentasikan ‘the return of the repressed’, mewadagnya kekuatan-kekuatan yang berlayar dalam alam bawah sadar. Kekuatan-kekuatan yang telah maujud itu muncul hanya untuk direpresi kembali melalui penghancuran wadag-wadag mereka. Di satu sisi alam sadar merasa takut terhadap sang monster, di lain pihak id ingin merampok, memperkosa, mengamuk, memporak-porandakan segalanya dengan kekuatan sang monster. Hal ini menjelaskan fakta-fakta atau fenomena-fenomena akan kesukaan ditakuti-takuti dan menakuti-nakuti, atau monster-monster yang dicintai atau dipuja banyak orang, seperti Frakenstein atau dalam konteks Indonesia Nyi Roro Kidul, atau keberadaan film-film horror nihilistik yang menjadikan sang monster sebagai dewa penolong, pelindung, atau hero?

Lebih lanjut, Shaw menjelaskan, bahwa film-film horor mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai eksistensi manusia, mengenai diri, melalui konfrontasi dengan liyan. Kekuatan sang monster membuat eksistensi spesies manusia dipertaruhkan. Dalam kisah-kisah ‘realistic-horror,’ orang dipaksa menghadapi potensi-potensi mengerikan umat manusia. Semua itu mengoda hati siapa saja yang belum atau tak tercemari oleh logos.

Shaw membukakan jalan bagi keterlibatan kehendak-kehendak berkuasa Nietszcean, dan masokisme dalam ambivalensi kesukaan menonton film horror, tapi apakah ia telah menjawab paradoks kesenangan dalam ketakutan?

Tak ubahnya Carroll, Shaw hanya menunjukan bahwa ada dua arus yang mengalir ketika orang menonton film horror, kesenangan dan ketakutan, atau dengan ingatan terhadap Hume, kesenangan yang didapat dalam penghancuran ketakutan. Jawaban Carroll bahwa ketakutan itu ilusif, dan sebenarnya orang hanya menikmati kesenangan dalam plot penemuan, pembukaan, dan penegasan, bahwa paradoks itu hanyalah sebuah kesalahan kategoris dalam pendefinisian perasaan, bahkan lebih memadai

Benarkah paradoks ini sesungguhnya tidak pernah ada? Benarkah kesenangan tak pernah menyimpan ketakutan, atau sebaliknya?

Barangkali kita harus berangkat dari konklusi akhir Carrol, yaitu kesenangan dalam menonton film horror adalah kesenangan terhadap misteri atau terpenuhinya hasrat keingintahuan. Apakah yang tersimpan dalam hasrat itu? Mengapa orang menyukai misteri? Bukankah orang selalu merasa hampa ketika sebuah kebenaran, jawaban, terungkap? Sehingga mereka berlari mencari misteri lain, melakukan perjalanan baru, mengulang pengalaman-pengalaman, tekanan-tekanan mereka yang telah dan akan hilang setelah sang jawaban ditemukan? Tidakkah ini juga yang terjadi terhadap para pecandu horror yang selalu memasuki bioskop yang memutar film kesukaan mereka? Tidakkah itu menunjukan bahwa rasa takut inheren dalam kesenangan, vice versa?

Pertanyaan-pertanyaan sejenis dapat pula diajukan terhadap masokisme dan kehendak berkuasa yang diajukan oleh Shaw, yang bagaimana pun berdiri di halte yang sama dengan hasrat keingintahuan Carrol, meski keduanya berada di sudut yang berbeda, Shaw pada afirmasi keberadaan rasa takut dalam diri penonton film horror, Carrol pada penolakan eksistensi perasaan tersebut.

Jika filsafat dan psikologi tak mampu menjawabnya, mungkin kita harus lari ke biologi, bagaimana paradoks tersebut dikaitkan dengan naik-turunnya adrenalin, misalnya, atau neurologi, memeriksa selaput-selaput mana saja yang berdenyar saat orang berada dalam paradoks hati tersebut.

Apabila hal itu pun gagal, inilah salah satu horror yang kita hadapi, kesenangan sekaligus ketakutan kita, dalam ‘realitas formal’, gitu?

###

Advertisements

About this entry