Beauty Mistique Wajah Indo

Oleh Nuruddin Asyhadie

 

 

“There is no excelent beauty that hath not some strangeness in the proportion.”

—Francis Bacon

 

 

JulliestFilm-film Indonesia hampir selalu menyuguhkan wajah indo sebagai bintang. Sebut saja, Wulan Guretno, Nicholas Saputra, Adjie Masaid, Cornelia Agatha , Ulie Estelle, Marcel Chandrawinata, Fachri Albar, Tamara Bleszynski, Sophia Latjuba, Luna Maya, Ari dan Ira Wibowo, Ida Iasa, Meriam Belina, Barry Prima, Roy Martin, Suzana, dan banyak lagi. Jikapun terdapat wajah ‘Melayu totok’ seperti Marcela Zalianty, Dian Sastro, Dewi Yull, Rano Karno, Benjamin S, dapat dihitung dengan jari, atau hanya menjadi bintang kelas dua.

 

Film dan Kecantikan

Film memang salah satu industri yang menjual kecantikan dan ketampanan. Dalam sebuah program yang disiarkan salah satu stasiun televisi nasional, Ram Punjabi pernah mengatakan, “Kecantikan adalah syarat mutlak dalam dunia film atau sinetron, seorang bintang musti cantik, dan menonjol dibanding tokoh lainnya. Kalau tokoh utama jelek, tentu kurang disukai penonton.”

Perempuan cantik dan lelaki tampan secara seksual lebih responsif tinimbang sosok-sosok tak menarik, mereka juga dipandang lebih sensitif, baik, sosial, modis, dan menarik.

Efek ‘halo’ kecantikan dan ketampanan mampu menembus jauh ke kesadaran, menciptakan popularitas, dan subjek penglihat merasakannya sebagai sesuatu yang natural, ilahiah, absolut, dan universal.

Adakah kecantikan merupakan sesuatu yang objektif? “Beauty,” kata Voltaire, “ is in the culture of the beholder, not in the philosophy of Plato”; sementara bagi Hume, “Beauty is no quality in things themselves: it exists merely in the mind wich contemplates them…”

 

Sejarah dan etnologi telah membuktikan ucapan Voltaire dan Hume. Tiap-tiap zaman dan etnik memiliki pemahaman akan kecantikan/ketampanan yang berbeda-beda. Kecantikan tak bersifat natural dan universal, melainkan sebuah konstruksi sosial atau politik.

Membicarakan wajah indo, yang karenanya mengandaikan adanya wajah lokal atau murni Indonesia, bukanlah sesuatu yang mudah. “Indonesia adalah India kecil,” ujar Gandhi. Semenjak semula ia adalah sebuah negri kosmopolit. Wajah seperti apakah yang disebut Indonesia asli, Melayu asli, Jawa asli, Batak asli, Minang asli?

Marilah berangkat dari pandangan umum yang menunjuk wajah semacam raut para artis yang telah disebutkan di muka sebagai indo, meski sangat bias dan kabur. Bagaimanapun ia ada dan hidup di masyarakat, sebagai sebuah kesadaran akan “liyan”, “keasingan” yang beroposisi dengan “kelaziman” atau “keumuman”, bukan “orisinalitas”.

Dalam bangun pikir ini maka penting untuk mencamkan petilan pernyataan Francis Bacon, “There is no excelent beauty that hath not some strangeness in the proportion,” dan memainkannya secara berbeda.

 

Penyemaian Beauty Mistique Wajah Indo

 

“Keasingan” sesunguhnya bersifat netral, ia tak hanya identik dengan “kecantikan” tetapi juga “keburukan”. Tak ubahnya dengan kecantikan, keburukan juga hasil dari ketaklaziman, ketakumuman. Dari sudut pandang “keasingan” ini, perbedaan antara kecantikan dan keburukan sangatlah tipis, sama halnya dengan kegilaan dan kejeniusan, maka jangan heran jika pada titik atau saat-saat tertentu, dua kategori itu—dalam ketertundaannya—saling bertukar tempat tanpa bisa dirasakan.

Tak perlu jauh-jauh menunjuk Manusia Raksasa atau Manusia Liliput dalam sebuah pertunjukan sirkus, yang selalu menarik minat calon penonton. Pada kasus wajah indo ini pun pertukaran itu dapat secara langsung ditemukan. Di satu sisi, keasingan wajah indo membuat orang terperangah, mabuk kepayang, dan jatuh cinta. Di sisi lain ada orang yang melihatnya sebagai ancaman akan kemurnian, kepalsuan, dan menuding kecintaan pada wajah indo mental inlander, lemah atau lenyapnya kepribadian, termakan oleh arus modernisasi, atau globalisasi.

Melangkah lebih jauh, bagaimana dunia film Indonesia, juga penontonnya, bisa masuk ke dalam medan magnit atau beauty mistique, wajah indo?

Kebudayaan Indonesia pada masa kolonial adalah budaya “bazaar”, “indisch”, atau “mestizo”, yang relasinya lebih banyak ditentukan oleh transaksi ekonomi. Eropa bukan, pribumi juga bukan, sebab gaya hidup Eropa coba dipribumikan, juga sebaliknya, gaya hidup pribumi coba dieropakan. Kebudayaan itu tak hanya terjadi di kalangan Belanda yang menikmatinya penuh dengan prevelese, tetapi juga kalangan pribumi, dan Cina. Rembesan itu sangat wajar. Pola konsumsi selalu mengikuti trend yang di atas. Sebagai kasta sosial paling atas waktu itu, orang-orang Belanda menggantikan kewibawaan patron konsumsi keraton.

Kebudayaan ini melahirkan seni lenong, tanjidor, dan keroncong. Suasana kultural Indisch secara kreatif dimanfaatkan oleh kaum Cina dan indo, sebab merekalah memiliki kapital yang kuat. Dua kelas itu mendirikan perusahaan penerbitan dari hasil transaksi dagang atau penjualan tanah yang luas. Mereka pun mulai menulis karya sastra Melayu pasar, yang menggambarkan corak kehidupan mestizo. Lahirlah cerita-cerita Njai Dasima, Si Tjonat. Dalam bidang seni pertunjukan, mereka membangun bisnis sandiwara, di mana para pemain utamanya adalah orang-orang Cina dan indo, sedang pribumi lebih banyak berperan sebagai pekerja, dan menggeser wayang cerita yang kemudian menjadi lenong Betawi dan hanya menjadi tontonan jelata di pinggiran.

Komidi Stambul adalah bisnis sandiwara pertama yang muncul di masa itu. Kelompok ini didirikan di Surabaya tahun 1891 oleh August Mahieu, pemuda Indo bersuara tenor yang memiliki bakat menyanyi dan dimodali oleh Yap Goan Thay. Bentuk pertunjukan ini meniru sandiwara Melayu “Abdul Mouluk”, namun digarap dengan selera Barat. Musisi dan pemain pentingnya terdiri dari orang indo, sementara pemain pendukungnya dari etnis Cina. Hiburan yang separuh Melayu separuh Barat ini ternyata digemari oleh penduduk Hindia Belanda, dan mengilhami kelahiran grup-grup baru seperti “Komidie Opera Stamboel”, “Opera Permata Stamboel”, “Opera Bangsawan”, “Indra Bangsawan.” Inilah masa penyemaian pertama ‘beauty mistique” wajah indo.

Dalam film Indonesia, Ratna Djoewitalah yang dikenal sebagai wajah indo pertama, meskipun Fifi Young juga memilih darah Belanda. Wajah indo lain semasa itu adalah Ratna Ruthinah keturunan Belanda. Jumlahnya memang sedikit, namun harus diperhitungkan pula peran wajah-wajah asli Belanda, atau Jerman, atau Amerika, yang muncul dalam film-film Belanda, Jerman, dan Hollywood yang membanjiri perfilman Indonesia kolonial, sampai sekarang, terutama untuk film-film Hollywood, dalam penanaman yang menjadi matriks beauty mistique wajah indo.

Jerat-Jerat Beauty Mistique

 

“The cost of the beauty mistique are high, ” tulis Judith Rodin dalam Body Traps (1992). Pada jubah beautifyism memang tersulam fasisme, praduga, dan diskriminasi. Beauty mistique telah terinstitusi jauh kedalam kesadaran manusia, dan sebagaimana yang disimpulkan oleh Synnott (The Body Social; Symbolism, Self, and Society, 1993), menjadi benteng terakhir kesenjangan.

 

Sangat berbahaya jika stakeholder industri film, atau siapapun, tak segera memahami makna kosmik dan kesetaraan antara nilai kecantikan dengan keburukan yang terstigma.

Mereka harus memikirkan kembali paradigma kecantikan dalam bisnisnya. Bukan untuk mengingkari atau melawan eksistensi kecantikan, membalikannya dari kebaikan ke kejahatan, dari investasi ke sampah, kebenaran ke kepalsuan, kesenangan ke sesuatu yang politis, kebebasan ke keterpenjaraan, solusi ke kanker sosial yang mematikan. Bukan. Hanya bagaimana agar industri ini lebih proporsional; cerita, karakter, akting, artistik, fotografi dapat berdiri sama tinggi dengan paras cantik sang bintang.

 

###

 

Diterbitkan dalam majalah film F edisi 6

Advertisements

About this entry