Tentang Rahasia Ilahi & Sinetron Relijius Lainnya

Oleh Nuruddin Asyhadie


sinetronreligi Berawal dari keresahan Didi Ardiansyah menyaksikan tayangan sinetron seragam menggambarkan ABG dan kemewahan, tanpa nuansa keindonesiaan dan pesan moral yang bisa diambil, Rahasi Ilahi (RI) menjadi sebuah fenomena dalam jagad sinetron Indonesia. Ia mampu memuncaki rating televisi, menggeser Bawang Merah Bawang Putih. Lebih hebat lagi, ia menciptakan genre baru sinetron relijius.

Tentu semuanya tak berjalan mudah. Sebelum sukses, RI yang sempat ganti nama beberapa kali, dari Misteri Ilahi, Benang Tasbih, lalu ke judul yang terakhir ini sempat ditawarkan ke beberapa stasiun teve. Tapi semua menolaknya, karena diangap tak memiliki nilai jual. Setelah diperbaiki dan disiapkan kembali selama tiga bulan, RI dicoba tawarkan ke TPI dengan sistem share iklan, yang artinya kalau iklannya sedikit atau sama sekali tidak ada Didi dan Kusuma Esa Permata (KEP), rumah produksi yang digandeng Didi akan merugi.

Tak dinyana dengan momentum yang tepat, RI 1 jadi favorit sebagai tayangan Ramadan. Sekitar Mei-Juni 2004 RI 1 bisa tayang tiap hari jam 21.00. Akhirnya, kesuksesan 30 episode RI 1, berlanjut 10 episode RI 2. Dilanjutkan RI 3 yang tayang regular tiap Senin selama 1,5 jam.

Saat Rahasia Ilahi berada di puncak, masih bersama KEP, TPI meluncurkan Takdir Ilahi (TI). Persis saudara tuanya, baru dua bulan tayang, sinetron ini melesat pula. . Bedanya kalau RI berdasarkan kisah, TI berpedoman pada hadist Bukhari-Muslim yang ditulis oleh Muhammad Amin Al-Jundi Al-Muttaqin dalam buku Miah Qishshah wa Qishshah fi Anis Ash-Shalihin wa Samir Al-Muttaqin dan kitab Madarijus Salikin karangan Ibnu Qayyim Al-Jauziah, yang direkontekstualisasi dengan kehidupan masa kini.

Survei AC Nielsen menunjukkan sinetron RI berhasil meraih rating 14,9 dan share 40,29 persen, sinetron TI, 9,8/22,8% dan KDI-2 (program pencarian bakat penyanyi dangdut TPI), 9,4/28,3 % . AC Nielsen juga menempatkan sinetron RI sebagai tayangan dengan rating pertama untuk semua program di seluruh stasiun televisi. Sedangkan sinetron TI meraih peringkat ketiga dalam daftar Top 50 Program Televisi di Indonesia.

Seperti bisnis lainnya di Indonesia, kesuksesan satu produk menciptakan para epigon. Bukannya mencari dan memproduksi tema-tema baru yang berbeda untuk ditawarkan ke masyarakat sesuai dengan prinsip diferensiasi, keunikan, dalam bisnis, rumah-rumah produksi lebih suka berlatah-latah membuat sinetron sejenis, dan berebut pasar yang sudah ada. Lahirlah Allah Maha Besar, dan Kehendak-Mu (TPI), Astaghfirullah dan Kuasa Ilahi (SCTV), Tuhan Ada di Mana-mana (RCTI), Azab Dunia dan Jalan ke Surga (ANTV), Taubat, Insyaf, dan Istighfar (TRANS TV), Azab Ilahi, Pada-Mu yang Rabb, dan Sebuah Kesaksian (LATIVI), Titik Nadir (TV7).

Revolusi Rahasia Ilahi

Revolusi RI terletak pada keberhasilannya mengganti sistem bintang ke cerita yang diklaim sebagai kenyataan. Strategi ini lantas diadopsi oleh sinetron-sinetron relijius lainnya. Astaghfirullah didasarkan atas kisah nyata di majalah Ghaib. Taubat mengambil cerita dari majalah Insting, Azab Ilahi dan Sebuah Kesaksian didasarkan atas narasi atau kesaksian orang-orang yang mengalami atau menyaksikan langsung kejadian yang dituturkan dalam sinetron tersebut.

Klaim sebagai kisah nyata sebelumnya juga dipakai oleh sinetron Oh Mama Oh Papa yang diambil dari rubrik berjudul sama di sebuah majalah perempuan, namun tidak begitu sukses. Artinya, meski pemindahan itu revolusioner, namun variable kesuksesannya di pasar adalah tema-tema keislaman yang diambil..

Tentu tidak semua tema Islami langsung diembat oleh penonton. Butuh waktu yang tepat, kemampuan melihat arah angin, dan pengemasan.

Kesuksesan RI dan pelatahnya tak lepas dari fenomena majalah Hidayah, yang telah sukses terlebih dahulu. Dengan sangat jeli, RI mencuri nilai merek Hidayah. Kisah-kisah dalam majalah tersebut diambilnya, namun itu hanya sebuah batu loncatan belaka, selanjutnya kisah-kisah dalam sinetron tersebut diambil dari berbagai cerita nyata yang dialami banyak orang atau murid-murid ustad Arifin Ilham.

Pengkastingan Arifin Ilham sebagai “sang Petanda Terakhir” dalam sinetron tersebut juga strategi yang jitu. Arifin, adalah da’i muda kondang, memiliki wajah camera face, dan disenangi ibu-ibu.

Pilihan cerita yang kebanyakan berkaitan dengan hukuman dan pahala dari Tuhan di dunia maupun kubur membuatnya lebih mudah diterima masyarakat, sebab memiliki kedekatan dengan keajaiban-keajaiban, kekuatan, kesaktian yang jalannya telah dibuka oleh sinetron-sinetron atau tayangan mistik. Akan lain halnya jika hukuman dan pahala itu berjalan di wilayah sosial, dan terjadi dalam proses sebab-akibat yang subtil, sehingga terasa sebagai sebuah kenormalan, bukan keajaiban.

Untuk memunculkan keajaiban diperlukan kutub-kutub ekstrim yang saling bertentangan, kebaikan yang terlalu baik, kejahatan yang terlalu jahat. Keajaiban tanpa keekstriman akan terasa janggal, atau irasional-tentu saja dalam logika keajaiban itu sendiri, di mana irasionalitas justru merupakan syarat logis bagi eksistensinya.

Dalam sebuah masyarakat yang selalu kalah dan dikalahkan kisah-kisah irasional lebih mudah merasuk, sebab kehidupan yang mereka jalani juga irasional. Rasionalitas akan dirasakan sebagai sebuah manipulasi, ilusi. Rasionalitas adalah alat dari kekuasaan yang telah menjajah mereka. Kisah-kisah irasional itu merupakan tempat bagi mereka untuk bercermin atau mengidentifikasi diri sebagai orang-orang kalah, namun memiliki kekuatan kebaikan, atau harapan-harapan akan kemenangan, kebebasan, yang tak mungkin tercapai, kecuali berkat pertolongan seorang pahlawan, bisa kiai, bisa Tuhan pribadi.

Kedekatan dengan tema mistik, serta tawaran akan mimpi, kemewahan, kegemerlapan dan kekerasan relijius, membuat RI dan para epigonnya tak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang baru. Dari segi isi sinetron-sinetron relijius juga tak menyajikan interpretasi-interpretasi baru terhadap moralitas atau ajaran-ajaran agama yang menjadi komoditinya. Penonton menyaksikan sinetron ini bukan untuk menemukan pengalaman-pengalaman baru, perjalanan ke masa depan, melainkan untuk mendapatkan kembali bilik-bilik mimpi mereka, yang telah luntur terdera hidup, penopang bagi tulung punggung mereka yang keropos. “Mendapatkan kembali”, artinya mereka telah mengenal, memiliki bilik-bilik itu, namun memerlukan sebuah peneguh bahwa bilik itu memang seperti yang mereka kenal, bahwa bilik itu memang yang mereka miliki.

Untuk mendapatkan semacam pengesahan, mereka mengundang alim ulama yang mempertegas ajaran tersebut, ajaran yang bahkan tanpa mereka katakan pun semua orang telah hafal di luar kepala, semua orang telah dengarkan, pelajari, sedari kecil, yang seharusnya membuat sang alim merasa malu, sebab tugasnya adalah mengembangkan ilmu untuk meningkatkan keimanan, bukan mencagar ilmu dan keimanan, sebab keimanan harus meningkat seiring ilmu, bukan dalam pengertian untuk menjadi lebih taqlid, tetapi memperdalam penghayatan manusia akan hidup.

Menghindari Fesyen yang Vulgar

Dalam laporan di sebuah tabloid, Didi Ardiansyah membanggakan dampak positif RI terhadap pemirsa. Ia katakan bahwa bayak orang yang perilakunya berubah setelah nonton RI. Misalnya, pedagang di warung yang enggak mau menipu timbangan pada pembeli. Ia takut mendapat azab dari Allah seperti yang pernah dikisahkan RI. Sungguh sebuah kebaikan yang nyata, namun adakah Didit pernah melakukan riset pengaruh RI terhadap intoleransi agama, lebih spesifikasi lagi, ajaran, yang merebak di masyarakat?

Sebuah bukti mencolok dari sikap ini adalah gagasan perlunya sebuah badan syariah untuk mengontrol maraknya sinetron Islami agar tak muncul adegan yang tidak sesuai dengan nilai ajaran, yang disampaikan oleh salah seorang ustad atau alim ulamah yang turut terlibat dalam satu atau beberapa sinetron relijius. Apa yang diindikasikan dalam gagasan ini adalah, sang ustad melihat adanya sinetron-sinetron relijius yang memunculkan adegan yang tidak sesuai dengan nilai ajaran, yang tentu saja nilai ajaran sesuai dalam pemahamannya. Ia mengambil alih kuasa kebenaran ajarannya menjadi kebenarannya.

Selain itu, sebagai sebuah spekulasi, tidakkah gagasan ini merupakan politik bisnis untuk memonopoli atau bertahan dalam persaingan sinetron relijius yang semakin ketat?

Motif atau tujuan yang hendak dicapai dengan sinetron-sinetron relijius adalah syiar agama. Alih-alih mencapai tujuan tersebut, problem krusial yang menghadang adalah pembanalan ajaran agama, karena kecenderungan-kecenderungan totalitas seperti yang ditunjukan sang ustad muda, maupun tema dan isi sinetron- sinetron relijius. Dengan kekuatan televisi sebagai media, bukan tidak mungkin akan terjadi fesyen yang vulgar akan ajaran-ajaran agama.

Maka perlu mencamkan apa yang ditulis oleh Hamzah Fansuri, pujangga Melayu terbesar Abad XVII, dan pencipta bentuk pantun pertama dalam bahasa Melayu, dalam sebuah syair yang menyindir kegenitan beragama di masa Alauddin Riayat Syah dan Iskandar Muda:

Hikmat-Nya berbagai-bagai
Menjadi ibu dan bapai
Olehnya ia tahu memakai
Itulah orang banyak terlalai
Segala muda dan sopan
Segala tua beruban
Uzlahnya berbulan-bulan
Mencari Tuhan ke dalam hutan
Segala menjadi sufi
Segala menjadi ruhi
Gusar dan masam di atas bumi…!

……..

###


About this entry